Perang Israel Vs Hamas

Update Perang Lawan Israel: Iran Siapkan Serangan Balas Dendam, AS Mulai Cari Sekutu Bantu Zionis

Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Potret Iron Dome milik Israel menangkal serangan misil dari Jalur Gaza, 14 Mei 2021. Terbaru, Iran siap melakukan serangan balasan terhadap Israel atas kematian pimpinan politik Hamas, Ismail Haniyeh. Perang diperkirakan bakal pecah 13 Agustus 2024.

TRIBUNWOW.COM - Konflik di Timur Tengah kini semakin membara, setelah pimpinan politik Hamas, Ismail Haniyeh tewas dalam serangan Israel.

Iran hingga Hamas dengan tegas menyatakan bakal memberikan pembalasan setimpal pada Israel.

Sementara itu, Israel menjawab ancaman Iran dengan menyatakan siap menghadapi serangan balasan.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu Israel, mulai melobby negara-negara teluk termasuk Yordania dalam menghadapi serangan yang bakal dilakukan Iran.

Selengkapnya, berikut ini update kondisi konflik melawan Israel, 5 Agustus 2024:

Baca juga: Iran Bersumpah Balas Dendam terhadap Israel atas Kematian Ismail Haniyeh, AS Setia Dukung Zionis

Iran Siapkan Kejutan

Jenderal Hossein Taeb, yang saat ini menjadi penasihat panglima tertinggi Garda Revolusi Iran (IRGC), mengatakan bentuk balas dendam atas pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, tidak akan dapat diprediksi dan mengejutkan.

Hossein Taeb menyampaikan pernyataan tersebut selama pertemuan dengan pejabat dan anggota pasukan Basij di kota suci Mashhad, pada Minggu (4/8/2024) seperti dikutip dari TehranTimes.

Mantan Kepala Intelijen IRGC ini menekankan bahwa balas dendam terhadap Israel akan dilaksanakan melalui perancangan skenario baru dan mengejutkan.

Menurut dia musuh-musuh Revolusi Islam Iran harus memahami bahwa Iran selalu siap menghadapi ancaman dan mempertahankan hak-haknya.

Terkait upaya Netanyahu untuk mendapatkan dukungan Amerika Serikat (AS) dengan menekankan ancaman militer yang melibatkan Lebanon dan Iran, Taeb menekankan “Setiap konflik baru di kawasan tersebut hanya akan memperburuk tekanan dan tantangan internal bagi Amerika Serikat.”

Karena alasan ini, menurut dia, upaya Presiden AS Joe Biden untuk membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuju solusi diplomatik sejauh ini tidak membuahkan hasil.

“Meskipun Netanyahu yakin ia dapat menyeret AS ke dalam perang, Amerika tidak mengizinkannya melakukannya. Politisi Amerika hanya memberikan lampu hijau terbatas untuk menargetkan komandan Hizbullah dan Hamas. Namun, Netanyahu berusaha mengubah tindakan terbatas ini menjadi perang regional, yang menghadapi pertentangan keras dari AS”

Ta'eb menegaskan Netanyahu dan para penentangnya sama-sama meyakini bahwa Israel berada di ambang kehancuran dan jika situasi terus berlanjut maka pemerintahan Netanyahu mungkin akan berakhir pada tahun 2028.

"Netanyahu dan faksi-faksi sayap kanan dan konservatif semuanya memiliki pandangan yang sama bahwa Israel tidak akan mampu bertahan hingga ulang tahunnya yang ke-80 dan harus mencari solusi baru untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada di depan.”

Gempur Tel Aviv di Tanggal 12 Agustus

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan para sekutu bersumpah akan membalas Israel, yang dituding sebagai dalang atas pembunuhan Haniyeh.

"Setelah peristiwa pahit dan tragis yang terjadi di dalam wilayah Republik Islam, adalah tugas kita untuk membalas dendam," ujar Ali Khamenei di X.

Khamenei tak menjelaskan kapan serangan itu akan dilakukan, namun Badan intelijen Barat memprediksi rencana Iran menyerang Israel akan dilakukan bertepatan dengan salah satu hari besar Yahudi yakni peringatan Tisha B'Av yang jatuh pada tanggal 12-13 Agustus 2024.

Laporan tersebut mengklaim bahwa orang Yahudi Israel mungkin merasa sangat rentan pada hari tersebut, adanya serangan itu dianggap akan menambahkan lapisan siksaan psikologis bagi warga Yahudi.

Selain membangkitkan trauma akan bayangan kehancuran, serangan Iran di hari Tisha B'Av dipilih karena kemungkinan besar di hari itu keamanan Israel bakal lenggah, teralihkan fokusnya untuk menjaga keamanan di peringatan hari Yahudi tersebut.

“Iran akan melakukan serangan di hari Tisha B'Av, mereka berharap bahwa serangan pada hari itu akan membawa unsur kejutan. Sementara pihak keamanan mungkin disibukkan dengan ritual keagamaan mereka sendiri atau menyelesaikan perselisihan, mereka mungkin tidak siap menghadapi serangan militer,” jelas intelijen Barat, mengutip dari Jerusalem Post.

Baca juga: Imam Masjid Al Aqsa Ditangkap Israel karena Pidato Belasungkawa untuk Ismail Haniyeh, Hamas Bereaksi

Netanyahu Siap Hadapi Skenario Perang Iran

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya siap untuk apa pun dan akan membalas dengan keras jika diserang Iran.

"Kami siap menghadapi skenario apa pun,  baik secara ofensif maupun defensif," kata Netanyahu, Minggu (4/8/2024), mengawali  pertemuan kabinet mingguan di Kantor Perdana Menteri di Yerusalem.

Seperti diketahui, Iran mengancam akan menyerang Israel sebagai balasan setelah pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dibunuh di Teheran pada hari Rabu, sehari setelah komandan senior Hizbullah Fuad Shukr terbunuh di Beirut.

Israel mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Shukr tetapi belum memberikan komentar resmi tentang Haniyeh, yang kematiannya disalahkan kepada Israel.

"Negara Israel tengah berperang melawan poros kejahatan Iran," kata Netanyahu dikutip dari Times of Israel.

"Kami menyerang setiap lengannya dengan kekuatan besar."

"Saya tegaskan dan katakan kepada musuh-musuh kami. Kami akan membalas dan akan menuntut harga yang mahal atas setiap tindakan agresi terhadap kami, dari pihak mana pun," kata Netanyahu.

Menlu AS: Serangan dalam Waktu Dekat

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada rekan-rekannya dari negara-negara G7 bahwa Washington yakin serangan Iran terhadap Israel dapat dimulai dalam 24 hingga 48 jam ke depan, demikian Axios melaporkan mengutip sumber yang ikut dalam pertemuan menteri-menteri G7.

Menurut laporan itu, Blinken berbicara dengan rekan-rekannya di tengah upaya AS untuk meredakan ketegangan di kawasan dan mencegah meletusnya perang habis-habisan.

Karena AS yakin serangan Iran tidak dapat dihindari setelah terbunuhnya pejabat tinggi Hizbullah dan Hamas minggu lalu.

Blinken mengatakan kepada para pejabat dalam panggilan tersebut bahwa menekan Teheran untuk membatasi serangannya adalah cara terbaik untuk menghindari perang regional.

Blinken mengatakan bahwa AS tidak mengetahui waktu pasti serangan Iran yang direncanakan, Axios menambahkan, tetapi meyakini serangan itu dapat dimulai paling cepat pada hari Senin hari ini.

Baca juga: Israel Tuduh Jurnalis Ismail Al-Ghoul yang Sudah Dibunuh adalah Anggota Hamas, Al Jazeera Bantah

AS Cari Sekutu, Lobi Yordania

Di tengah ketegangan konflik Timur Tengah buntut kematian pemimpin biro politik Hamas Ismail Haniyeh, Pemimpin Komando Pusat AS (CENTCOM) Jenderal Michael Kurilla dilaporkan menggelar kunjungan ke Yordania untuk mencari sekutu baru.

Kunjungan itu digelar Kuriila dan pasukan CENTCOM setibanya di Timur Tengah pada akhir pekan lalu, adapun kunjungan dimaksudkan untuk melobi pemerintah Yordania agar mereka mengizinkan jet tempur militer AS dan Israel memasuki wilayah udaranya, mencegat pesawat nirawak Iran yang ditembakan menuju Tel Aviv, ibu kota Israel.

Tak hanya Yordania, Kurilla kabarnya turut mengunjungi berbagai negara Teluk lainnya guna melobi para pimpinan agar mau memperkuat koalisi internasional dan regional bersama AS demi melindungi Israel dari serangan Iran.

“Kunjungan Jenderal Michael Erik Kurilla bertepatan dengan persiapan AS dan Israel untuk kemungkinan pembalasan Iran menyusul pembunuhan baru-baru ini terhadap para pemimpin senior Hamas dan Hizbullah, sebagaimana dinyatakan oleh dua pejabat AS yang dikutip oleh Anadolu.

Sebagaimana diketahui ketegangan di Timur Tengah mulai membara setelah Ismail Haniyeh bos besar Hamas dilaporkan tewas bersama seorang pengawalnya di gedung tempat mereka menginap di Teheran, Iran pada Rabu (31/7/2024) dini hari.

Media pemerintah Iran menjelaskan Haniyeh tewas lantaran diserang bom yang diselundupkan ke ibu kota Iran, Teheran. Namun setelah penyelidikan lebih lanjut, terungkap fakta bahwa kematian Haniyeh disebabkan oleh proyektil jarak pendek dengan isi bahan peledak 7 kilogram yang diluncurkan dari luar gedung kediaman Haniyeh.

Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan Israel mengumumkan telah berhasil membunuh Fuad Shukr, tokoh kunci dalam transfer sistem panduan Iran untuk rudal jarak jauh Hizbullah. Shukr tewas dalam serangan udara di sebuah gedung di Beirut selatan pada pekan lalu.

Tak lama pengumuman itu dirilis, Militer Israel mengklaim bahwa pihaknya sukses membunuh wakil kepala produksi senjata kelompok milisi Jihad Islam di Palestina, Mohammed Al Jabari.

Imbas serangkaian pembunuhan tersebut, sejumlah milisi dan kelompok bersenjata Iran mengadakan pertemuan penting dengan perwakilan Hizbullah dari Lebanon, Hamas dari Palestina Kelompok Milisi Irak dan Houthi Yaman untuk membahas serangan balasan ke Israel.

“Perwakilan dari sekutu Iran di Palestina, Hamas dan Jihad Islam, serta gerakan Houthi yang didukung Teheran di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok perlawanan Irak akan menghadiri pertemuan di Teheran,” kata seorang pejabat senior Iran. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jenderal Iran: Serangan ke Israel Tidak Bisa Diprediksi dan Akan Mengejutkan, dan Perang Mendekat! AS Lobi Yordania Untuk Tangkis Serangan Drone Kiriman Iran ke Israel