"Total 26 kursi, tinggal 8 kursi yang kemungkinan di isi oleh kalangan non partai politik," jelasnya.
5. Mengarah pada Kubu 01?
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS), Agung Baskoro mengatakan, orang-orang toxic yang dimaksud Luhut bisa mengarah pada mereka yang tidak sesuai visi dan misinya dengan Prabowo-Gibran.
Sebab, Agung menilai bahwa perbedaan visi dan misi bisa membuat banyak masalah dan hambatan di pemerintahan itu sendiri.
“Devinisi toxic ini bisa mengarah pada siapa pun partai atau orang-orang yang diajak masuk kabinet oleh Prabowo-Gibran tetapi nafasnya berbeda dengan arahan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan program-program pemerintah atau melaksanakan program-program yang disampaikan saat kampanye, apakah soal makan siang gratis, soal IKN (Ibu Kota Negara) Nusantara dan program prioritas lain,” kata Agung kepada Kompas.com, Senin (6/5/2024).
Namun, Agung melihat bahwa pesan Luhut tersebut lebih relevan mengarah pada kubu pasangan calon (paslon) nomor urut 1, yakni Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Pasalnya, ketiga partai itu mengusung narasi perubahan pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024.
Sementara kubu Prabowo-Gibran mengusung wacana keberlanjutan.
Apalagi, ketiga partai yang mengusung paslon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar itu kini diketahui memberikan sinyal positif mendukung dan bergabung ke dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Momen Luhut ingatkan soal toxic ini bisa dipahami bahwa dia sedang bicara dalam konteks digitalisasi sehingga memang ketika dinarasikan dalam posisi Koalisi Indonesia Maju, maka lebih relevan saat kubu 01 apakah Nasdem, PKB atau bahkan PKS bergabung dengan kubu Prabowo-Gibran,” ujar Agung Baskoro.
Menurut Agung, tidak mudah mengintegrasikan perbedaan narasi tersebut walaupun dua partai yang mengusung perubahan tersebut masih menjadi bagian dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).
“Integrasi maupun konsolidasi narasi itu bukan hal yang mudah walaupun partai tadi masih jadi bagian pemerintahan Jokowi,” katanya.
Lebih lanjut, Agung mengatakan, peringatan Luhut tersebut penting agar nantinya tidak ada partai politik yang bermain dua kaki dalam pemerintahan.
Termasuk, Koalisi Indonesia Maju.
“Perlu diingatkan memang, jangan sampai malah ini nanti jadi celah mereka untuk main dua kaki atau bahkan koalisi pemerintah dalam hal ini Koalisi Indonesia Maju yang anggotanya sedang bergabung juga pada berpikir untuk bermain dua kaki. Ini yang jadi soal dan merepotkan pemerintahan Prabowo-Gibran ketika nanti memimpin,” ujarnya. (*)
Baca berita terkait Pilpres 2024 lainnya
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menebak Sosok 'Toxic' yang Dikhawatirkan Luhut Gabung Pemerintahan Prabowo dan di Kompas.com dengan judul "Menakar Siapa Orang "Toxic" yang Dimaksud Luhut, Lebih Relevan ke Kubu 01?"