Salah satunya ialah dengan tidak datang ke stadion untuk memberikan dukungan dan juga munculnya tagar #ajiout di media sosial.
Namun, puncak ketegangan terjadi pada pekan ke-6 Liga 1 2023-2024 saat Persebaya dikalahkan Persikabo 1973 1-2 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya lalu.
Tepat setelah laga tersebut, suporter langsung meneriakkan chant Aji out dilanjutkan demo di area luar stadion.
Aji Santoso pun menemui Bonek untuk mempertanggungjawabkan rangkaian hasil buruk tersebut.
"Saya bertanggung jawab dengan hasil ini. Jangan menyalahkan manajer, jangan menyalahkan pengurus, jangan menyalahkan pemain. Kalian boleh mencaci saya, saya bisa terima," ujarnya saat unjuk rasa berlangsung.
Tidak lama berselang, manajemen memutuskan untuk mengistirahatkan sang nakhoda.
Sebuah keputusan yang mengejutkan mengingat kompetisi masih berjalan enam pekan.
Terlebih Aji Santoso dianggap sebagai pelatih yang satu frekuensi dengan Persebaya.
Baca juga: Gemuruh Pelatih Liga 1: Persebaya-Persis Solo Mulai Berbenah, Arema FC-Persikabo 1973 Selanjutnya?
Saat di bawah kepemimpinannya, tim berhasil menempati peringkat kedua Liga 1 2019 setelah sempat terseok di papan bawah hingga paruh musim.
Aji Santoso juga mempersembahkan gelar Piala Gubernur Jawa Timur 2020.
Selain itu tangan dinginnya juga membawa Persebaya menulis ulang sejarah dengan menang pertama kalinya di kandang Persija Jakarta dan Arema FC dalam 23 tahun terakhir.
Legenda timnas Indonesia itu telah memimpin 91 laga Persebaya dengan meraih 43 kemenangan, 22 seri, dan 26 kekalahan.
Manajemen Persebaya sebenarnya menawarkan posisi baru kepadanya setelah diistirahatkan.
Namun, ia memutuskan untuk angkat kaki. Dua hari setelah berpisah dengan tim, Aji Santoso langsung berlabuh ke Persikabo, klub yang membuatnya dipecat dari Persebaya.
Segudang pengalamannya diharapkan mampu mengangkat performa tim berjuluk Laskar Pajajaran yang terseok-seok di zona degradasi.