TRIBUNWOW.COM - Sayap gerakan militer Hamas, Brigade Al Qassam memberikan tanggapan atas klaim Israel yang temukan terowongan terbesar di Palestina.
Dikutip dari Al Mayadeen, terowongan itu dianggap jalur Gaza di bagian utara yang mempelopori serangan 7 Oktober 2023 lalu atau yang disebut Badai Al Aqsa.
Brigade Al Qassam mengatakan penemuan itu sudah terlambat bagi Israel, Kamis (21/12/2023).
Baca juga: 19 Napi dan Sipir Penjara Israel Keroyok Seorang Warga Palestina di Rutan, Dilakukan selama 1 Bulan
Dalam video yang beredar, terlihat Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant memasuki pintu terowongan Hamas.
Dipublikasikan, pintu masuk terowongan itu berjarak kurang dari 400 meter di pagar pemisah perbatasan timur laut Jalur Gaza.
Atau terowongan itu terlebtah di seberang situs militer Erez, Israel.
Dengan memperhatikan ukuran terowongan dan sifat kontruksinya, nampaknya terowongan itu dipersiapkan untuk operasi ofensif.
Hal ini dibenarkan oleh Brigade Al Qassam yang mengindikasikan terowongan itu untuk mengangkut pasukan yang besar.
Sehingga bisa dipastikan memang terowongan ini memang dirancang untuk Badai Al Aqsa.
Baca juga: Melihat Kondisi Keluarga Sandera Lansia yang Videonya Diunggah Hamas Minta Kesepakatan ke Israel
Terowongan memanjang itu membentang berkilo-kilo meter bertujuan untuk mengangkut pasukan dari satu daerah ke daerah lainnya dengan cepat.
Gerakan itu dilakuakn di bawah tanah untuk menyelinap dari pasukan Israel.
Terbukti, kekuatan tersebut terlah mengejutkan musuh dan berhasil membuat Israel kewalahan pada serangan 7 Oktober lalu.
Terowongan jenis ini tidak ditujukan untuk operasi pertahanan atau untuk infiltrasi di belakang garis musuh.
Hal ini terlihat dari ukuran dan perpanjangan membuatnya tidak cocok untuk operasi pertahanan yang memerlukan terowongan yang dapat menampung sejumlah kecil pejuang perlawanan.
Untuk mencegah terowongan runtuh, Hamas memberikan bukaan yang dekat dengan permukaan tanah.
Baca juga: Hamas Rilis Video Tawanan Lanjut Usia, Keluarga di Israel Lakukan Tuntutan ke Pemerintahan Tel Aviv