“Saya ditangkap tiga bulan lalu dan saya ditahan secara administratif,” kata Mohammed kepada Al-Jazeera dikutip dari Palestine Chronicle.
Penahanan administratif ini memungkinkan Israel untuk memenjarakan warga Palestina berdasarkan ‘bukti rahasia’ yang tidak diungkapkan, bahkan kepada pengacara pembela.
Penahanan dapat diperpanjang untuk jangka waktu enam bulan, tanpa dakwaan atau pengadilan.
Baca juga: Beda Israel dan Hamas yang Kembalikan Sandera ke Tempat Asal: Lambaikan Tangan ke Pejuang Palestina
“Penjara tersebut menjadi kuburan setelah tanggal 7 Oktober,” kata Mohammed.
“Penjaga Israel sering memasuki sel dan memukuli para tahanan.”
“Satu minggu yang lalu, kami dipukuli secara kejam dengan batangan besi. Saya meletakkan tangan saya di kepala saya untuk melindunginya dari cedera, namun tentara tidak berhenti sampai mereka mematahkan tangan saya,” tambah Mohammed.
Tahanan anak tersebut dibiarkan tanpa perawatan selama seminggu penuh sampai dia dibebaskan pada Selasa pagi, menyusul perjanjian gencatan senjata.
Sebelum dibebaskan, para tahanan anak-anak Palestina dipindahkan ke penjara Ofer, di mana tentara Israel terus memukuli mereka, menurut Mohammed.
Setelah tanggal 7 Oktober, Layanan Penjara Israel juga menerapkan kebijakan kelaparan dan bentuk-bentuk pelecehan lainnya terhadap tahanan Palestina.
“Mereka memberi kami sepiring kecil nasi setiap hari,” kata Mohammed, menambahkan:
“Di penjara sangat dingin dan tentara mengambil selimut dan pakaian dari kami. Mereka bahkan melarang kami mandi dan mengejek kami dengan mengatakan bahwa kami berbau tidak sedap.” (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tahanan Palestina yang Dibebaskan Israel dalam Pertukaran Sandera: 'Mereka Mematahkan Tangan Saya'