TRIBUNWOW.COM - Para pengungsi Palestina yang terdampak atas serangan keji Isrel mengalami nasib yang mengenaskan.
Dikutip dari Middle East Eye, seorang pengungsi bernama Hazem Abu Ghaben menceritakan naasnya hidupnya sekeluarga lantaran harus mengungsi, Minggu 26 November 2023.
Diceritakan Abu Ghaben awalnya memiliki rumah yang sangat luas di Jabalia, Palestina.
Baca juga: Reaksi Dunia soal Gencatan Senjata Israel dan Hamas selama 4 Hari, Menlu AS Masih Kobarkan Kebencian
Namun, mereka harus meninggalkan rumah itu lantaran tentara Israel memaksa 1,1 juta warga di lokasinya tinggal untuk mengungsi satu bulan yang lalu.
Para warga di Jabalia diminta mengungsi ke Selatan Gaza karena adanya serangan besar-besaran.
Dalam perjalanan evakuasi, Abu Ghaben mengatakan tak ada alat transportasi sama sekali.
Hal ini karena serangan udara yang terus-menerus menyerang kendaraan yang lewat.
Ia dan keluarganya harus berjalan sejauh 10 km di antara pengeboman dan lautan pengungsi.
Baca juga: Israel Ogah Stop Serang Gaza, Tak Peduli Warganya yang Disandera Hamas Turut Jadi Korban
"Kami berjalan sambil mengangkat tanda pengenal kami. Ini sangat mengerikan karena mereka secara sewenang-wenang menangkap dan membunuh orang," katanya.
Setelah melewati pos pemeriksaan militer, Abu Ghaben dan keluarganya menemukan kereta yang ditarik oleh keledai.
Setibanya di lokasi pengungsian, keluarga ini menemukan kamp pengungsian di Sekolah PBB.
Karena tak membawa kasur atau alas tidur, terpaksa ia dan keluarga tidur di tanah halaman sekolah.
Baca juga: AS Minta Israel Waspada saat Serangan, Bedakan antara Warga Sipil dan Hamas setelah Korban Meningkat
"Saya di sini sudah satu bulan, ini sangat sulit dan tak tertahankan," kata Abu Ghaben.
Situasi diperparah karena tempat pengungsian yang kurang fasilitas kebersihan, persediaan air bersih, dan makanan.
"Orang-orang bahkan tidah bisa membeli sejumlah makanan untuk menghindari kelaparan."