Pilpres 2024

Reaksi Spontan Prabowo seusai Disanjung Presiden Jokowi di Rakernas LDII, Audien Seketika Bergemuruh

Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Momen kebersamaan Prabowo dan Jokowi saat menghadiri HUT Golkar ke-59, Senin (6/11/2023).

TRIBUNWOW.COM - Presiden Joko Widodo turut hadir dalam Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia, (LDII).

Dilansir TribunWow.com, acara Rakernas LDII diselenggarakan di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta Timur, Selasa (7/11/2023).

Rakernas LDII tersebut bertajuk 'Mewujudkan SDM Profesional Religius dalam Bingkai NKRI untuk Indonesia Emas 2045'.

Dalam pidato sambutannya, Presiden Jokowi menjelaskan tantangan-tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Baca juga: Putusan MKMK Tak Pengaruhi Langkah Gibran untuk Maju di Pilpres, TKN Prabowo-Gibran: Sujud Syukur

Presiden Jokowi turut memberikan contoh beberapa negara di Amerika Latin yang gagal menjadi negara maju bahkan stagnan menjadi negara berkembang hingga sampai ada yang jatuh menjadi miskin.

"Menuju Indonesia Emas itu tidak mudah, banyak tantangan yang harus diselesaikan, di Amerika Latin, banyak negara yang gagal melompat menjadi negara maju," ujar Jokowi dikutip TribunWow.com dari Kompas TV.

"Tahun 1950 mereka sudah menjadi negara berkembang, dan saat ini masih berkembang bahkan ada yang jatuh miskin, itu yang tidak ingin terjadi di negara kita Indonesia, insyallah kita bisa, asal semangatnya seperti di Rakernas LDII kali ini," lanjutnya.

Untuk menghindari hal itu, Presiden Jokowi menyebutkan ada tiga tahun politik yang bisa menjadi penentunya.

Pertama yakni di tahun 2024, 2029 dan terakhir di tahun 2034.

Menurutnya, apabila Indonesia bisa memanfaatkan momentum di tiga tahun politik itu, maka dapat dipastikan Indonesia mampu menjadi negara maju di tahun 2045.

Dengan menggaris bawahi semua elemen kepemimpinan nasional harus kuat, bersatu dan kompak agar biasa menyelesaikan permasalahan-permasalahan global.

Presiden Jokowi bersama Prabowo Subianto dan Retno Marsudi seusai lepas bantuan untuk Palestina, Jakarta Timur, 4 November 2023 (YouTube/Sekretariat Presiden)

Baca juga: Paslon Anies-Cak Imin Kompak Tak Pikirkan soal Khofifah Indar yang Disebut Menangkan Prabowo-Gibran

"2024, 2029, 2034 ini adalah momentum yang bisa menentukan Indonesia bisa melompat maju atau tidak, sehingga dibutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat, persatuan yang kuat, dan kekompakan yang kuat. Tantangan global, kepastian ekonomi global, gak jelas arahnya kemana, baru selesaikan satu saja muncul persoalan ekonomi yang lainnya," jelasnya.

Pentingnya tiga tahun politik yang bisa jadi fondasi Indonesia menjadi negara maju di tahun 2045 itu membuat Presiden Jokowi menegaskan perlunya sosok pemimpin yang memiliki kemimpinan yang kuat, terdekat di tahun 2024 mendatang.

Uniknya, ketika menyinggung soal pemimpin dengan ketokohan yang kuat, Jokowi langsung mengaitkannya dengan sosok Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto.

"Sehingga sekali lagi dibutuhkan kepemimpinan yang kuat yang ditampilkan pencak silat tadi bener, karena ketua nya pak Prabowo Sekjennya pak Teddy," kata Jokowi disambut dengan tepuk tangan meriah dari anggota LDII.

"LDII ini kalau gini-gini tuh pinter banget memberi simbol-simbol gitu lho," lanjut Jokowi.

Sontak, seloroh Presiden Jokowi membuat para audien yang memenuhi Grand Ballroom Minhaajurrosyidin bergemuruh.

Di sisi lain, selepas Presiden Jokowi memberikan pujiannya, Prabowo Subianto sontak memberikan reaksi di luar dugaan.

Ketua Umum Gerindra itu sontak berdiri dan langsung menunjukkan sikap hormat kepada Presiden Jokowi dan para audien dengan diiringi tepuk tangan yang sangat meriah.

Momen Prabowo beri respon di luar dugaan seusai diberikan sanjungan oleh Presiden Jokowi dalam Rakernas LDII, Selasa (7/11/2023).

Prabowo Mantap Bersatu dengan Jokowi

Menteri Pertahanan RI (Menhan) Prabowo Subianto kembali memuji sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga singung kekalahnnya di Pilpres 2019.

Hal itu disampaikan bakal calon presiden (capres) dari Koalisi Indonesia Maju, Prabowo Subianto saat menghadiri Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang digelar di Jakarta Timur pada Selasa (7/11/2023).

Prabowo Subianto awalnya mengungkapkan pengalamannya saat kalah dalam kontestasi Pilpres 2019.

"Waktu tahun 2019 ya kan, saya kalah," ujar Prabowo Subianto dilansir Kompas.com.

Baca juga: PAN Menyangkal Hasil Survei Elektabilitas Prabowo Turun setelah Gandeng Gibran Rakabuming

Pengakuan tersebut membuat sebagian hadirin tertawa.

Prabowo pun merespons hal tersebut.

"Loh kalah (ada yang) ketawa lagi. Sedih lho kalah," kata Prabowo.

Dia mengatakan, saat itu merupakan periode yang kritis.

Sebab, dia melihat para pendukungnya marah.

Namun, Prabowo menyadari bahwa jika dirinya ikut marah akan menimbulkan perpecahan.

"Saya melihat pengikut pengikut saya waktu itu diujung kemarahan. Saya ingat, saya sadar, saya mengerti, oh hati-hati, Indonesia selalu jadi korban pecah belah, selalu korban adu domba. Selalu korban devide et impera," tutur dia.

Selama ratusan tahun sejarah Indonesia, kata Prabowo, selalu ada adu domba antar-suku, agama, dan ras.

Bahkan, di dalam satu agama terkadang terjadi perpecahan karena perbedaan pandangan.

Prabowo tidak ingin hal itu terulang.

Baca juga: Ulama, Tokoh Senior, Jenderal Purn hingga Artis Jadi TKN Prabowo-Gibran 2024, Ini Daftar Lengkapnya

Oleh karena itu, saat Presiden Jokowi menjadi pemenang Pilpres 2019 dan merangkul dirinya, Prabowo pun bergabung.

"Bahwa pada saat kritis itu saya tidak mau. Saya katakan, marilah kita hindari perpecahan dan pada saat itu, Pak Jokowi yang menang. Dia mengulurkan tangan. Dia mengajak saya bergabung, dia mau mengajak saya bersatu," tutur dia.

"Dia memberi kesempatan kepada saya untuk berbakti dan mengabdi bersama sama untuk seluruh rakyat Indonesia. Pak Jokowi kalahkan saya. Tapi saya punya insting, saya punya firasat. Pak Jokowi ini hatinya baik, niatnya baik, hasratnya baik, sama dengan saya," ujar Prabowo.

Prabowo pun akhirnya masuk kabinet Jokowi untuk periode 2019-2024.

Menurut dia, setelah pilpres tersebut, tidak penting lagi siapa yang jadi pemenang pertama, kedua, atau ketiga.

"Kalau niat kita sama, hasrat kita sama ingin berbakti untuk seluruh rakyat Indonesia, kenapa kita tidak bisa berkerja sama," kata Prabowo.

"Siapa yang nomor satu, siapa yang nomor dua siapa yang nomor tiga engga ada urusan, itu tidak penting, kita (harus) bersatu," ujar Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Baca juga: Nasib Bobby Nasution setelah Nyatakan Dukungan ke Prabowo-Gibran, Diberi Waktu untuk Kembalikan KTA

Puji Jokowi

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo juga memandang Presiden Jokowi sebagai sosok yang pemberani, melebihi keberanian para jenderal.

Padahal, kata Prabowo, Jokowi bukan tentara atau pernah menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) seperti dirinya.

"Kadang-kadang saya sebagai mantan tentara, aku lihat beliau (Jokowi) ini tidak pernah Kopassus, tidak pernah, tapi keberaniannya mungkin melebihi semua jenderal gitu," ujar Prabowo saat memberi paparan dalam Rakernas LDII, Selasa (7/11/2023).

"Enggak bergeming, terus. Beliau diejek, beliau dihina, terus," sambungnya.

Lalu, Prabowo mengenang perintah Jokowi untuk dilakukan hilirisasi demi kemakmuran rakyat Indonesia.

Menurutnya, Jokowi saat itu meminta agar semua bahan sumber daya alam yang ada di Indonesia harus diolah di dalam negeri.

Maka dari itu, bakal calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju ini ingin meneruskan perjuangan Jokowi.

"Karena itu saya mantap saya bersatu dengan Pak Jokowi, saya akan melanjutkan perjuangannya Pak Jokowi," imbuhnya.

(TribunWow.com/Adi Manggala S/Vintoko)

Baca Berita Terkait