Pilpres 2024

Alasan Demokrat Pilih Gabung Kubu Prabowo daripada Kubu Ganjar, Pengamat Soroti Konflik SBY-Megawati

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY (kanan).

Tak Jamin Kemenangan

Sementara itu, Direktur Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi, menilai koalisi pendukung Prabowo yang gemuk tak menjadi jaminan kemenangan di Pilpres 2024.

“Dalam kontestasi pilpres, tidak selalu linear antara kemenangan dengan jumlah banyaknya partai dalam koalisi,” katanya kepada Kompas.com, Senin (18/9/2023).

Ari menyebut, semakin gemuk koalisi, justru semakin rumit membangun koordinasi antarpartai politik.

Baik itu untuk menentukan cawapres, maupun ketika mempersiapkan kampanye.

Meski bekerja sama dalam satu koalisi, setiap parpol diyakini akan mementingkan ego masing-masing.

Parpol cenderung ingin memenangkan partai mereka sendiri ketimbang capres-cawapres yang mereka dukung.

“Ego partai pasti ingin memenangkan partai, bukan sosok capres,” ujarnya.

Lagipula, lanjut Ari, dukungan massa partai politik tak selalu sejalan dengan kandidat capres-cawapres.

Artinya, meski suara koalisi besar dan beragam dari berbagai partai, belum tentu massa pendukungnya memilih capres-cawapres yang diusung koalisi tersebut.

“Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membuktikan kalau loyalitas kader partai tidak identik selalu memilih capres-cawapres yang diusung partainya,” kata Ari.

“Misalnya Demokrat, kefanatikan kader dan simpatisan Demokrat ternyata ada yang memilih Ganjar di 33 persen, sementara yang memilih Anies masih 22 persen dan yang memilih Prabowo di 39 persen,” tutur dosen Universitas Indonesia (UI) itu. (*)

Baca berita Pilpres 2024 lainnya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Demokrat Disebut Tak Gabung Koalisi Ganjar, Konflik SBY-Megawati Jadi Sebab?"