Dengan perilaku FOMO, remaja sekarang tidak dapat menentukan keputusan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Baca juga: Solusi Strategis Atasi Krisis Pangan, Lemhannas RI Dorong Upaya Pemanfaatan FABA
Mereka menunjukkan sikap ikut-ikutan karena enggan disebut kuno atau out of date, tidak mengikuti perkembangan jaman atau bukan kekinian.
Kekhawatiran yang lebih mendalam sikap ikut-ikutan berkiblat pada paham asing atau nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Pancasila.
Sebagai solusinya, Pancasila harus berwujud, berbentuk dan berketahanan. Yang bisa mengimplementasikannya adalah remaja masa kini dan ini tidak lepas dari peran pendidikan dan orang tua.
Putut Prabantoro memberikan bukti bahwa Pancasila dengan gotong royongnya merupakan ideologi yang tepat bagi bangsa Indonesia.
Selain karena berbagai upaya pemerintah, cepat bangkitnya Indonesia dari keterpurukan Covid karena gotong royong, di mana masyarakat terkecil yakni desa atau kampung saling membantu bergotong royong untuk meringankan beban kehidupan.
“Ketika Covid terjadi, masyarakat membangun komunitas jaga kampong, jaga desa dll yang intinya dengan gotong royong, penderitaan karena Covid bisa dikurangi. Sementara di Amerika Serikat, Covid membongkar semua kepalsuan hidup. Mimpi Amerika hancur karena sebagian besar masyarakatnya hidup dari kartu kredit,“ ulas Alumnus Lemhannas PPSA XXI itu.
Ditekankan sekali lagi, tinggal 22 tahun lagi yang tersisa dan jumlah tahun itu harus cukup untuk membangun karakter remaja sekarang ini agar dapat menjadikan remaja sekarang sebagai pemimpin negara dan bangsa yang sesuai dengan kebutuhan jaman khususnya tahun 2045. (*)