Sementara terkait visi misi perubahan, Surya menyebut Anies kerap menyuarakan catatannya tentang utang BUMN yang “super-tinggi” saat ini.
Surya melihat bahwa persoalan itu penting untuk diubah, karena menurutnya BUMN tidak seharusnya mendominasi semua program pembangunan, karena peran swasta juga perlu dikuatkan.
“BUMN perlu didudukkan kembali ke perannya sebagai “agent of development”, tidak bekerja berbasis utang yang membebani rakyat, yang juga rawan bancakan,” cetusnya.
Surya menegaskan bahwa Anies Baswedan berpikiran yang sama dengan Luhut, bahwa semua hal yang baik dikerjakan pemerintahannya dilanjutkan oleh pemerintah berikutnya.
Karena itu pengacara pro bono ini mengatakan bahwa sepatutnya tidak perlu ada lagi “super-minister” yang harus melakukan semuanya. Yang bagaimana pun bermanfaatnya, sambungnya, tidak akan bisa dilanjutkan karena pendekatannya terlalu personal, bukan hasil kolaborasoi.
“Pak Anies percaya pentingnya pemisahan antara pengambil kebijakan dengan pengusahanya, ini penting untuk mencegah konflik kepentingan yang berlarut seperti sekarang. Ini juga penting agar negeri ini tidak diurus ala mafia, di mana ketika Anda terperosok ke dalam masalah, Anda ada di dalamnya, dan tidak ada lagi jalan keluar,” pungkas Surya. (*)