Ponpes Al Zaytun dan Kontroversinya

Bandingkan Kasus Al Zaytun dengan Ahok, Salim Said Singgung 'Bekingan' Panji Gumilang: Bertele-tele

Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Via
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pakar politik Prof Salim Said (kiri) dan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun Indramayu, Panji Gumilang (kanan). Salim Said membandingkan kasus Al Zaytun dengan Ahok.

Sebagai pakar politik, Salim Said mengaku bingung dengan sikap yang ditunjukkan pemerintah.

Terlebih dulu pemerintah begitu sigap dalam menangani kasus dugaan penistaan agama yang membelit Ahok.

"Saya ditanyain orang bagaimana pendapat saya sebagai seorang profesor yang mempelajari politik, militer, intelijen."

"Ini bagaimana kok bisa terjadi, ini kekisruhan," tandasnya.

Kontroversi Ibadah Haji ala Panji Gumilang

Satu per satu ajaran sesat yang diduga disebarkan Panji Gumilang mulai terkuak.

Termasuk soal ibadah haji pengikut Panji Gumilang yang berbeda dari umat Islam lainnya.

Dilansir TribunWow.com, Panji Gumilang dan pengikutnya menganggap Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun sebagai Mekkah.

Karena itu, mereka melaksanakan ibadah haji di lingkungan pesantren yang terletak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tersebut.

Baca juga: Polemik Ponpes Al Zaytun, Diduga Sebar Ajaran Sesat hingga Peras Harta Jamaah, Ini Kata Mahfud MD

Pengikut Panji Gumilang rupanya melaksanakan ibadah haji setiap 1 Muharram.

Hal itu tentu berbeda dari umat Islam yang melaksanakan haji setiap bulan Dzulhijah.

Pengakuna itu diungkap eks pengikut Panji Gumilang sekaligus pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan.

"Ibadah haji menurut NII itu enggak perlu ke Mekkah," ucap Ken Setiawan, dalam acara CATATAN DEMOKRASI tvOne, Selasa (20/6/2023).

"Ibadah haji cukup datang ke Al Zaytun setiap 1 Muharram, diartikan sebagai perkumpulan para pejabat."

"Dan itu seluruh korwil datang melakukan ritual haji juga di sana," imbuh Ken.

Halaman
123