Pilpres 2024

AHY Disebut Masuk Radar Cawapres Ganjar, Pengamat Singgung soal Strategi: Bukan Pilihan Pertama

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tangkapan layar video Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Masjid Nurul Hidayah, Jakarta Selatan, Jumat (24/6/2022).

TRIBUNWOW.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dikabarkan masuk dalam bursa kandidat calon wakil presiden (cawapres) yang cocok mendampingi Capres dari PDIP, Ganjar Pranowo.

Dikutip dari Tribunnews.com, kabar masuknya AHY di bursa kandidat cawapres Ganjar Pranowo diketahui melalui pernyataan Ketua DPP PDIP Puan Maharani saat konferensi pers di Sekolah Partai DPP PDIP, Selasa (6/6/2023).

Mengetahui pernyataan itu, Pengamat Politik, Yunarto Wijaya alias Toto menyebut hal ini tidak bisa dipastikan dapat terjadi.

Baca juga: Alasan di Balik Prabowo Usul Perdamaian Ukraina-Rusia Diungkap Gerindra: Ketersediaan Bahan Pangan

"Iya kalau nama AHY hanya disebutkan tunggal, saya pikir itu baru menarik dan kita anggap sebagai sebuah keseriusan yang mengerucut pada satu nama."

"Sementara kalau kita lihat dari rekamannya ini kan sebetulnya hanya menyebutkan bahwa Puan menyebutkan beberapa nama yang ramai di media, ada Pak Mahfud, ada Ridwan Kamil, Erick Thohir, Sandiaga Uno, termasuk nama Mas AHY," ungkap Toto dikutip dari Kompas Tv, Sabtu (10/6/2023).

Memang, kata Toto, dalam survei cawapres secara umum AHY merupakan salah satu yang tinggi elektabilitasnya.

"Paling tidak dia selalu ada di lima besar," sambung Toto.

"Memang pernyataan Puan ini menjadi menarik karena basis koalisinya berbeda koalisi Demokrat, yakni koalisi perubahan."

"Ini kan koalisi perubahan yang cenderung ada di garis yang berseberangan dengan koalisinya PDIP sebagai partai penguasa."

"Lalu yang lebih menarik kan adalah sebetulnya bagaimana kronologi sejarah hubungan antara PDIP dengan Demokrat yang kita tahu seakan-akan ada dalam kutub yang sentimen historisnya agak sulit bertemu," ujar Toto.

Baca juga: Demokrat Berpotensi Berkoalisi dengan Partai Lain jika AHY Tak Ditunjuk Jadi Cawapres Anies Baswedan

Walaupun, lanjut Toto, yang menarik sebetulnya adalah sentimen historis yang tidak terlalu baik ini terjadi antara ayahnya AHY, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan Megawati.

"Menurut saya sih pertama kabar baiknya menurut saya adalah sentimen historis yang katakanlah bersifat negatif terjadi di politisi senior itu bagusnya diperlihatkan ternyata tidak harus terjadi di level generasi di bawahnya ya."

"Yang kedua, pernyataan ini juga sebenarnya adalah simbol bagaimana politik menuju penentuan capres cawapres masih sangat cair. Apa yang kita lihat seperti basis belum tentu itu bisa dipastikan akan sama pada saat pendaftaran KPU nanti akhir Oktober," ungkap Toto.

Baca juga: NasDem Tuding Demokrat bakal Mundur jika AHY Tak Dijadikan Cawapres Anies: Bilang Terus Terang

Lebih lanjut, dalam konteks internal PDIP, Puan ingin menunjukkan bahwa PDI Perjuangan mulai cair.

Karena kita tahu kritik utama dari Koalisi PDI Perjuangan ini adalah sikap yang cenderung sering dikatakan eksklusif dari PDIP.

Apalagi sebagai partai, PDIP hanya berpusat pada keputusan Katua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Mega, yang memang kita tahu cukup keras ya memiliki pembatasan untuk melakukan komunikasi dengan pihak tertentu, termasuk Demokrat di antaranya," ujar Toro.

Dengan adanya pernyataan ini, menurut Toto, justru menunjukkan PDIP sebagai partai yang cair.

"Menurut saya, Puan menjelaskan PDIP ingin komunikasi dan membuka diri berkoalisi dengan siapapun, yang kemarin kecenderungannya kan ada kesan seperti pasif, menunggu orang yang datang karena capresnya adalah kader mereka elektabilitasnya juga tertinggi dalam konteks partai."

"Saya pikir apa yang ingin ditunjukkan kemarin adalah suasana cairnya PDIP di Rakernas," lanjut Toto.

Baca juga: Prediksi Langkah Demokrat jika AHY Tak Terpilih Jadi Cawapres Anies Baswedan di Pilpres 2024

Menurut Toto, kalau sebatas komunikasi sangat memungkinkan bertemu.

"Tapi kalau kemudian mengerucut kepada nama AHY menjadi bacawapres, maka perlu hitung-hitungan elektron berbasiskan tipe pilihan terhadap mas AHY itu mungkin bukan pilihan pertama."

"Mungkin masih dalam level sekunder atau tersier, karena memadukan dua kekuatan yang basisnya dalam dua Pemilu terakhir berbeda."

"Jadi tidak mudah langsung bisa menjadi variabel komplementer, artinya ketika ada kader partai merah dengan kadar partai biru selama 4 Pemilu terakhir berseberangan, itu tidak mudah untuk disatukan begitu saja," ungkap Toto.

Pasalnya selain AHY, ada nama bacawapres lain yang tak kalah populer, yakni Sandiaga Uno, Erick Thohir Ridwan Kamil, Pak Mahfud yang cenderung misalnya ada dalam satu ceruk dengan PDIP.

"Iya kalau kita lihat mungkin (ini cek ombak) saja ini kan menempatkan PDIP kembali dalam panggung pemberitaan."

"Mbak Puan berhasil memancing perhatian publik jadi perjuangan kemudian menjadi pusat pemberitaan lagi dalam konteks pencarian cawapres tetapi balik lagi kalau kemudian orang menganggap ini adalah sebuah keseriusan mungkin ya dalam konteks komunikasi," lanjutnya.

Tetapi kalau keseriusan mengarah kepada AHY, Toto menyebut masih banyak variabel-variabel lain yang perlu diskusikan dan masih menjadi faktor penghambat

(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani, Kompas TV)

Baca berita Pilpres 2024 lainnya

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kata Pengamat soal AHY Masuk Radar Cawapres Ganjar: Simbol Kerjasama Politik Masih Sangat Cair