Pemilu 2024

Pengamat Politik Sebut Bacaleg yang Pasang Baliho Wajahnya Menyedihkan: Tuntutan Peningkatan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ray Rangkuti. Pendiri Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti menyayangkan adanya spanduk dan baliho yang hanya berupa gambar tokoh bakal calon legislatif (bacaleg)

TRIBUNWOW.COM - Jelang pemilihan umum (Pemilu) 2024, para calon legislatif sudah mulai memasang spanduk.

Meski masa kampanye belum dimulai, banyak spanduk dan baliho calon legislatif yang terpasang dengan foto mereka.

Menanggapi hal ini, Pendiri Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti menyayangkan adanya spanduk dan baliho yang hanya berupa gambar tokoh bakal calon legislatif (bacaleg) yang kemungkinan akan ikut serta dalam pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Baca juga: Bahas Reshuffle, Ray Rangkuti Sebut Jimly Asshiddiqie Cocok Gantikan Nadiem: Punya Relasi Kuat

Sebab, katanya, pola sosialisasi pemilu yang saat ini sedang berlangsung hanya menampilkan figur tokoh partai politik tanpa menyertakan informasi yang subtantif.

"Ini agak menyedihkan kita karena di satu segi kita berharap ada tuntutan bagi peningkatan kualitas demokrasi," ujar Ray dalam diskusi bertajuk "Sosialisasi Tanpa Isi, BAWASLU tanpa gigi, KPU kurang gizi" di Kebayoran Baru, Jakarta pada Kamis, (27/4/2023).

Menurutnya, seharusnya spanduk-spanduk tersebut berisi informasi terkait ide dan gagasan bacaleg pemilu 2024 sehingga diharapkan masyarakat bisa mengenal pemikiran bacaleg dengan baik sejak awal.

"Jadi semata-mata hanya memperkenalkan diri mereka, tidak memperkenalkan apa isi kepalanya," kata Ray.

Baca juga: Wiranto Sebut Prabowo Sudah Mumpuni sebagai Capres 2024: Yang Menilai Nanti Masyarakat

Grafis PEMILU 2024 (Magang Tribunwow - Lutfia)

Lebih lanjut, pengamat politik itu juga menyebut saat ini banyak praktik politik yang cenderung melanggar asas prinsip Pemilu demokratik.

Ia lantas memberikan contoh saat Ketua Badan Anggaran DPR RI Fraksi PDIP Said Abdullah membagikan amplop berisi uang dengan logo PDI-P di Masjid daerah Jawa Timur yang seakan dimaklumi oleh penyelenggara Pemilu. 

"Nah jadi ini yang kelihatan (oleh publik), bukan ditindak malah seperti dipermaklumkan gitu, dimaklumi," ungkapnya.

Imbas dari praktik merayu pemilih dengan kegiatan material tersebut, kata Ray, bukan hanya menghilangkan substansi Pemilu, tetapi juga akan mengancam kualitas demokrasi.

"Dan juga hilangnya kesempatan kepada para pemilih untuk mengenal para kandidat melalui visi misi yang sejatinya lebih diutamakan," pungkasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Spanduk Caleg Berseliweran, Pengamat: Menyedihkan, Hanya Perkenalkan Diri Bukan Isi Kepala."