TRIBUNWOW.COM - Nasib miris dialami oleh Kurnaesih yang meninggal di ambulans dalam kondisi hendak melahirkan karena tidak berhasil menemukan rumah sakit.
Korban yang merupakan warga Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat ini meninggal pada Kamis (16/2/2023).
Dikutip TribunWow dari TribunJabar, Kepala Dinas Kesehatan Subang Maxi menjelaskan bahwa Kurnaesih memang sempat ditolak oleh dua rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia di ambulans.
Baca juga: Kuasa Hukum Buka Suara soal Munculnya Kakak AGH di Media Bahas Kasus Viral Mario Dandy
Maxi menjelaskan, awalnya korban sempat meminta pertolongan awal di Puskesmas karena mengeluhkan mulas di perut.
"Dalam pemeriksaan bidan desa, sekitar lima menit, dan hasil pemeriksaan ditemukanlah tanda-tanda bahwa ibu ini akan segera melahirkan. Ada pembukaan tiga jari dan mau pembukaan keempat," ujar Maxi, Senin (6/3/2023).
Setelah diperiksa oleh bidan, Kurnaesih pulang ke rumah menunggu lahiran namun dirinya tiba-tiba muntah-muntah dan sempat memuntahkan darah juga hingga akhirnya pingsan.
"Terjadi muntah-muntah tersebut diduga pecah ketuban dan pingsan di rumah. Ketika melihat kondisi pasien muntah-muntah ini, kemudian bidan desa menelepon ambulans puskesmas untuk membawa pasien ke puskesmas," ungkap Maxi.
Dokter di Puskesmas Tanjungsiang pada saat itu merujuk Kurnaesih agar segera dibawa ke rumah sakit.
Kurnaesih akhirnya dibawa ke RSUD Subang namun tidak dapat menerima perawatan karena kondisi ICU penuh lalu kembali dirujuk ke RS Mutiara Hati Pagaden.
Namun saat tiba di RS Mutiara Hati Pagaden, lagi-lagi kondisi RS penuh sehingga pasien dilarikan ke Bandung namun meninggal dalam perjalanan.
Maxi menduga ketuban yang pecah dipicu oleh tindakan tukang urut ibu-ibu hamil.
Baca juga: Viral Ditabrak Mobil seusai Acungkan Celurit ke Ibu-ibu, Pelajar di Magelang Ngaku Iseng
"Dipijat perutnya oleh paraji (tukang urut orang hamil), sehingga bagi kami kalangan medis sangat mencurigai bahwa ini telah terjadi pelepasan plasenta yang sifatnya parsial sehingga kalau saya hitung dari mulai jam 16.30 sampai waktu meninggalnya itu sekitar jam 11.00 itu memakan waktu sekitar hampir enam atau tujuh jam," papar Maxi.
Maxi mengaku pihaknya telah meminta maaf kepada keluarga korban.
"Pihak Dinkes dan RSUD Subang sudah bertemu dengan pihak Puskesmas Tanjungsiang yang didampingi anggota DPRD. Kita sepakat mengambil pelajaran dari kasus ini. Kita manusia banyak kekurangannya tapi yang terpenting bagaimana kita memperbaiki ke depannya, khususnya dalam hal memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat," terang Maxi.
RSUD Subang Dapat Dana Rp 8,8 Miliar