TRIBUNWOW.COM - Pada akhir Februari 2023 nanti, pasukan militer Rusia disebut akan melakukan serangan berskala besar ke Ukraina.
Prediksi ini disampaikan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky seusai melakukan rapat bersama pejabat Uni Eropa pada Jumat (3/2/2023).
Dikutip TribunWow dari rt, Zelensky menyampaikan, Ukraina saat ini tengah bersiap untuk menghadapi gempuran pasukan militer Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga: Mantan Menteri Pertahanan Ukraina Menyebut Senjata Kiriman Barat Bisa Memperlambat Serangan Rusia
Zelensky menyampaikan, serangan Rusia berskala besar nanti akan berfokus di Timur Ukraina.
"Rusia menginginkan balas dendam di tempat di mana mereka sebelumnya gagal," ujar Zelensky.
"Rusia ingin mengambil wilayah timur (Ukraina)," kata dia.
Zelensky sendiri percaya diri dapat menghalau serangan Rusia menggunakan bantuan-bantuan senjata yang dikirimkan oleh negara-negara barat.
Zelensky juga mengungkit bagaimana Ukraina akan segera memeroleh bantuan tank tipe M1 Abrams dari Amerika Serikat (AS) dan Leopard 2 dari Jerman.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidato terbarunya seolah memberikan sinyal bahwa dirinya tak segan menggunakan semua senjata demi melawan Ukraina dan para negara barat yang terus mengirimkan senjata.
Pidato ini disampaikan oleh Putin di Volgograd alias Stalingrad pada Kamis (2/2/2023).
Dikutip TribunWow dari bbc, dalam pidato tersebut Putin menjelaskan bagaimana sejarah kembali terulang.
Baca juga: Ukraina Mulai Kewalahan Hadapi Gempuran Rusia dari Berbagai Arah, Pasukan Elite Terus Berdatangan
Putin mengungkit ketika perang di Stalingrad pada tahun 1942-1943, pasukan militer Uni Soviet berperang melawan tank-tank Nazi Jerman.
Kini 80 tahun kemudian, pasukan militer Rusia kembali menghadapi tank Jerman yang dikirimkan sebagai bantuan oleh Jerman untuk Ukraina.
"Ini tidak dapat dipercaya tetapi benar, kita sekali lagi diancam oleh tank Leopard Jerman," ujar Putin.
Putin lalu menegaskan kepada musuh-musuhnya bahwa Rusia di era modern saat ini jauh berbeda dengan Uni Soviet dulu.