TRIBUNWOW.COM - Penyerangan pasukan Rusia di kota Bakhmut, Ukraina dikabarkan mengalami kemacetan, Selasa (3/1/2023).
Dilansir TribunWow.com, hal ini dikabarkan kepala perusahaan tentara bayaran Rusia Wagner, Yevgeny Prigozhin, yang diserahi menangani konflik di wilayah tersebut.
Menurut rekan dekat Presiden Rusia Vladimir Putin tersebut, melambatnya serangan terjadi karena perlawanan ulet Ukraina dan adanya penguatan jaringan pertahanan yang signifikan.
Baca juga: Pabrik Militer Rusia Genjot Produksi 24 Jam Seminggu, Putin Kehabisan Senjata untuk Perang Ukraina?
"Ada benteng di setiap rumah di Bakhmut," kata Prigozhin dikutip The Moscow Times, Selasa (3/1/2023).
"Para tentara bertempur di setiap rumah, terkadang lebih dari satu hari. Terkadang mereka membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk merebut sebuah rumah. Mereka mengambil satu rumah, mereka mengambil yang lain."
Tentara Wagner terdiri dari mantan personel militer, relawan dan termasuk narapidana yang direkrut dari tahanan Rusia.
Kelompok ini telah memimpin serangan Rusia di Bakhmut yang telah berlangsung hampir delapan bulan.
Serangan ditingkatkan di awal musim dingin karena komandan militer Rusia tampaknya berada di bawah tekanan untuk memberikan kemenangan di medan perang.
Tekad Rusia untuk merebut Bakhmut, sebuah kota yang tidak begitu penting secara strategis, telah membingungkan banyak pakar militer, yang mempertanyakan komitmen besar pasukan dan sumber daya Moskow.
Bakhmut telah rusak parah dalam pertempuran sengit dan kurang dari 10.000 warga sipil dari populasi sebelum perang sekitar 70.000 diyakini masih tersisa.
Prigozhin menawarkan sedikit kepastian bahwa Bakhmut dapat diduduki dalam waktu dekat.
"Mereka merebut satu rumah pagi ini dan menerobos pertahanan. Tapi di belakang rumah itu ada garis pertahanan baru dan bukan hanya satu," ujar Prigozhin.
"Dan berapa banyak garis pertahanan yang ada di Artemovsk (Bakhmut)? Jika kami mengatakan 500, kami mungkin tidak akan membuat kesalahan. Setiap 10 meter ada garis pertahanan," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, obsesi Rusia atas kota kecil di wilayah Donestk, Ukraina tersebut begitu membingungkan para ahli.
Pasalnya, dalam Rusia ngotot ingin menguasai kota tersebut meskipun tidak akan ada dampak signifikan untuk kemajuan invasinya.
Baca juga: Mimpi Buruk dan Bangun Tiap Malam, Warga Ukraina Kisahkan Trauma setelah Ditahan dan Disiksa Rusia