Setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mendeklarasikan mobilisasi parsial untuk perang di Ukraina sebulan yang lalu, ribuan pria usia militer meninggalkan negara itu untuk menghindari wajib militer.
Kisah Marcel adalah contoh dari taktik licik yang dilakukan oleh pihak berwenang dalam mengumpulkan rekrutan.
Selain asrama yang menampung pekerja migran, polisi juga dituduh menggerebek asrama mahasiswa dan tempat penampungan tunawisma.
Di St Petersburg, para pejabat mengakui bahwa petugas polisi dan perwakilan komisariat militer telah mengintai gedung-gedung apartemen, mencari orang-orang yang telah menerima wajib militer tetapi tidak melapor untuk mendaftar.
Sementara itu, polisi dilaporkan telah membagikan draft kertas kepada para pemuda di stasiun kereta bawah tanah di Moskow dan St Petersburg.
Pekan lalu, SOTA, salah satu outlet berita independen terakhir di Rusia, melaporkan bahwa seorang pria berkursi roda yang menderita atrofi otot tulang belakang menerima panggilan.
Kantor perekrutan kemudian merilis sebuah pernyataan melalui Telegram yang mengatakan bahwa pria itu memang tidak memenuhi syarat untuk wajib militer, menyalahkan kesalahan alamat tempat pria tersebut pindah.
Selain itu, militer Rusia dilaporkan tidak siap menghadapi gelombang baru pasukan yang datang.
Para wajib militer yang sudah dikirim, mengeluh tidak mendapat bayaran hingga kurangnya peralatan.
Potongan video yang beredar di media sosial menunjukkan seorang petugas mengatakan kepada para wajib militer bahwa, "Tidak ada cukup torniket untuk kalian semua".(TribunWow.com/Via)