TRIBUNWOW.COM - Sebanyak 108 wanita Ukraina berhasil dibebaskan dalam upaya penukaran tawanan perang dengan Ukraina, pada Senin (17/10/2022).
Dilansir TribunWow.com, setelah melakukan pemulihan, sejumlah penyintas berani membeberkan pengalaman mengerikannya.
Mereka mengaku mengalami pengancaman, penyiksaan, bahkan pelecehan oleh tentara Rusia maupun pasukan separatis.
Baca juga: Viral Foto Kurungan Besi Dibangun di Gedung Konser, akan Dipakai Rusia Adili Tawanan Perang Ukraina
Dalam konferensi pers di Kyiv, Selasa (26/10/2022), Inga Chikinda, seorang marinir kelahiran Lithuania yang termasuk di antara 108 prajurit wanita dan warga sipil yang dibebaskan mengaku mendapat perlakuan tak manusiawi.
Selama ditahan dalam kondisi seperti kamp konsentrasi selama berbulan-bulan, Chikinda mengalami berkali-kali ancaman eksekusi mati oleh para separatis.
Seperti dirinya, beberapa tawanan perang lainnya adalah perempuan.
Mereka disebutkan mengalami kelaparan, penyiksaan dan pelecehan seksual di dalam tahanan.
"Orang-orang ini tidak memiliki sesuatu yang suci," kata Chikinda dikutip dari Al Jazeera, Jumat (28/10/2022).
"Ada kalanya kami kelaparan. Kami tidak diperlakukan seperti manusia."
Selain itu para wanita tersebut juga ditolak saat meminta perawatan kesehatan dasar.
Liudmila Guseinova, yang ditangkap pada 2019, mengaku tak bisa mendapatkan sebuah kaca mata untuk membantunya melihat.
Sebagai informasi, Guseinova adalah warga Ukraina yang kerap membantu anak yatim pedesaan yang tinggal sejak 2014 di dekat daerah yang dikuasai separatis pro-Rusia di Donetsk.
Namun, para pemimpin separatis menuduhnya melakukan spionase, pengkhianatan, dan ekstremisme.
"Selama tiga tahun, saya tidak bisa mendapatkan dokter mata untuk memeriksa saya, hanya demi mendapatkan sepasang kacamata," tutur Guseinova.
Akibatnya, setelah tiga tahun dan 13 hari di penangkaran, dia kehilangan 70 persen penglihatannya.
Baca juga: Seperti Bucha, Pasukan Ukraina Temukan Mayat Bekas Penyiksaan di Kharkiv setelah Usir Tentara Rusia