TRIBUNWOW.COM - Gambar satelit terbaru menunjukkan iring-iringan sejumlah besar orang Rusia yang melarikan diri dari negaranya.
Dilansir TribunWow.com, kendaraan mereka berbaris ke arah Georgia dan Mongolia dan membentuk kemacetan hingga 16 Km.
Peristiwa ini terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan perintah mobilisasi ratusan ribu tentara cadangan untuk konflik di Ukraina.
Baca juga: Apa yang Terjadi jika Vladimir Putin Nekat Mengebom Ukraina dengan Nuklir Rusia? Ini Kata Para Ahli
Gambar-gambar yang dilaporkan Sky News, Selasa (27/9/2022), tersebut merekam antrian kendaraan, truk kargo dan mobil, menunggu dalam kemacetan panjang saat berusaha melewati perbatasan.
Menurut Maxar, perusahaan satelit yang merilis gambar tersebut, antrian untuk menyeberang ke Georgia itu membentang lebih dari 10 mil atau 16 km.
Menurut media Rusia, pada satu titik pada hari Minggu, perkiraan waktu tunggu untuk memasuki Georgia mencapai 48 jam, dengan lebih dari 3.000 kendaraan mengantri untuk melintasi perbatasan.
Pemerintah ibukota Georgia, Tbilisi, telah mencatat masuknya sekitar 40 ribu orang Rusia sejak Moskow menginvasi Ukraina pada 24 Februari.
Kini mulai beredar kabar bahwa Rusia mungkin akan segera menutup perbatasannya untuk para pria yang usianya sesuai dengan kriteria wajib militer.
Baca juga: Tidak akan Dipaksa Pulang, Zelensky Ungkap Nasib Tentara Rusia yang Menyerah ke Ukraina
Di sisi lain, para pejabat Jerman telah menyuarakan keinginan untuk membantu orang-orang Rusia yang meninggalkan dinas militer dan telah menyerukan solusi ini di seluruh Eropa.
Namun, negara-negara Uni Eropa lainnya bersikeras bahwa suaka tidak boleh ditawarkan kepada orang-orang Rusia yang melarikan diri sekarang.
Negara-negara ini termasuk Lithuania, yang berbatasan dengan Kaliningrad, eksklave Laut Baltik Rusia.
"Rusia harus tinggal dan berjuang. Melawan Putin," cuit Menteri Luar Negeri Lithuania, Gabrielius Landsbergis.
Satu orang yang berhasil melarikan diri ke Finlandia, mengatakan kepada Sky News bahwa mereka yang tetap tinggal dan memprotes menghadapi pembunuhan.
"Saya punya beberapa teman dan kenalan yang berada di gelombang yang sama dengan saya, dan saat ini mereka berada di Azerbaijan, Armenia, Belarusia dan beberapa dari mereka juga di Uni Eropa," terang Aleksander (bukan nama sebenarnya).
"Mereka semua mengerti bahwa tidak mungkin membuat perbedaan saat anda berada di Rusia."