TRIBUNWOW.COM - AS dinilai ingin secara simbolis mengakui tindakan Rusia di Ukraina sebagai upaya genosida.
Dilansir TribunWow.com, sekelompok senator AS diklaim telah mengajukan resolusi yang sesuai untuk hal itu.
Seperti dilaporkan media Rusia RIA Novosti, Kamis (21/7/2022), AS dan sekutu sebelumnya telah menanggapi invasi Rusia di Ukraina dengan memberlakukan berbagai sanksi terhadap Moskow.
Baca juga: Rusia Disebut Bersiap Mencaplok Tanah Ukraina seperti Krimea, AS Singgung Referendum Palsu
Tak hanya itu, AS juga secara jor-joran memberikan bantuan pertahanan skala besar ke Kiev.
Federasi Rusia mengirim catatan ke semua negara, termasuk Amerika Serikat, akibat pasokan senjata ke Ukraina itu.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mencatat bahwa setiap kargo yang berisi senjata untuk Ukraina akan menjadi target yang sah bagi Rusia.
Presiden AS Joe Biden sebelumnya menyebut tindakan pasukan Rusia di Ukraina sebagai genosida.
Gedung Putih akhirnya menjelaskan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan visi presiden tentang situasi di lapangan.
Kremlin menanggapi dengan mengatakan bahwa mereka menganggap upaya untuk mengubah situasi seperti ini tidak dapat diterima.
Kemudian, NBC News melaporkan bahwa pernyataan Biden tidak didukung oleh data intelijen AS dan menimbulkan kekhawatiran dalam pemerintahannya sendiri.
Baca juga: Rusia Sebut Tentara Ukraina Berubah Menjadi Monster setelah Jadi Obyek Eksperimen Rahasia
Menurut sebuah dokumen yang diposting di situs web Komite Hubungan Luar Negeri Senat, resolusi itu disponsori oleh tujuh anggota parlemen dan diajukan atas nama ketua komite James Risch.
Dalam dokumen tersebut, para senator mengusulkan untuk mengutuk tindakan Federasi Rusia di Ukraina, mengakui mereka sebagai genosida.
Mereka juga menyerukan kerjasama dengan NATO dan Uni Eropa untuk mendukung Ukraina dan mendukung penyelidikan internasional.
Resolusi tersebut, bahkan jika diadopsi, tidak akan menjadi panduan tindakan bagi cabang eksekutif dan akan bersifat rekomendasi dan simbolis.
Sebagai informasi, Rusia mengaku meluncurkan operasi militer khusus dan bukannya invasi di Ukraina pada Kamis (24/2/2022).