Aktivis politik Inggris Bill Browder menyebut konflik antara Rusia dan Ukraina sangat mungkin tidak akan berhenti hingga delapan tahun ke depan.
Berdasarkan media asal Inggris TheSun.co.uk, Browder adalah pria yang dijulukki sebagai musuh sejati Putin.
Browder bahkan diyakini masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh milik Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga: Tinggalkan Istri dan Anak, Pria Inggris Pilih Kabur dengan Gadis Ukraina yang Mengungsi di Rumahnya
Browder sendiri beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan hingga berkali-kali hampir ditahan oleh pemerintah Rusia.
Dikutip TribunWow.com, menurut Browder, konflik di Ukraina sebenarnya bukan baru saja terjadi pada 24 Februari 2022 lalu, melainkan sudah dimulai sejak tahun 2014 silam ketika Putin menganeksasi wilayah Crimea.
"Perang ini dapat dengan mudah berlangsung hingga delapan tahun ke depan," ujar Browder.
Browder menjelaskan, dalam konflik ini Putin dipastikan tidak akan menyerah, begitupula dengan Ukraina.
Menurut Browder, nantinya konflik antara Rusia dan Ukraina akan mirip dengan perang Iran-Iraq yang berlangsung selama satu dekade dan menewaskan jutaan orang.
Pemerintah Ukraina telah mengatakan tidak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia yang melibatkan penyerahan wilayah.
Penegasan posisi Ukraina ini terjadi sehari setelah Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan perang hanya dapat diselesaikan melalui diplomasi.
Penasihat presiden Mykhaylo Podolyak, mengatakan konsesi akan mengarah pada serangan Rusia yang lebih besar dan lebih berdarah.
Baca juga: Kumpulkan Jasad Tentara Rusia di Kereta Pendingin, Ukraina Ungkap Alasan Simpan Mayat Musuh
Dilansir TribunWow.com dari Independent, Senin (23/5/2022) Podolyak yang memimpin pembicaraan dengan Moskow mengatakan kesepakatan semacam itu akan menjadi bumerang.
Meski Ukraina setuju menyerahkan wilayahnya demi gencatan senjata, Podolyak yakin Rusia tak akan berhenti.
Alih-alih, Rusia akan membalas lebih keras setelah pertempuran dihentikan sementara waktu.
"Perang tidak akan berhenti. Itu hanya akan ditunda untuk beberapa waktu," kata Podolyak dalam sebuah wawancara dengan Reuters di kantor kepresidenan di Kyiv.