TRIBUNWOW.COM - Fakta baru diungkapkan oleh organisasi sukarelawan dokter non profit Medecins Sans Frontieres (MSF) alias dokter tanpa batas terkait konflik Rusia-Ukraina.
MSF yang telah menangani 650 pasien warga sipil Ukraina menyebut angka kekerasan terhadap warga sipil sangat tinggi.
Dikutip TribunWow.com dari skynews, mayoritas pasien yang mereka rawat mengaku terluka akibat serangan pasukan militer Rusia dan pasukan separatis pro Rusia.
Baca juga: Serangan Rusia Buat Ukraina Jadi Neraka, Pemimpin Uni Eropa Justru Masih Perdebatkan Keanggotaannya
Selama 31 Maret hingga 6 Juni, sebanyak 650 pasien dievakuasi menggunakan kereta api dari bagian timur Ukraina ke rumah sakit di wilayah yang lebih aman.
Dari ratusan pasien tersebut 40 persen di antaranya adalah warga lanjut usia (lansia) dan anak di bawah umur.
Luka yang umum ditemukan pada ratusan pasien tersebut adalah luka ledakan hingga tembakan senjata api.
"Banyak pasien di kereta MSF terluka karena serangan pasukan militer mengenai pemukiman penduduk," ungkap Christopher Stokes selaku koordinator darurat MSF.
Di sisi lain, seorang ibu di Ukraina bernama Viktoria Kovalenko harus kehilangan anak gadisnya Veronika (12) dan suaminya Petro yang tewas terkena serangan pasukan militer Rusia.
Tak hanya itu, Viktoria yang berhasil bertahan hidup sempat disekap oleh tentara Rusia bersama bayinya bernama Varvara di sebuah basemen hampir selama satu bulan.
Ditempatkan bersama 300 warga sipil lainnya, Viktoria dan bayinya terpaksa hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, lokasi basemen yang digunakan oleh tentara Rusia untuk menyekap Viktoria dan ratusan warga sipil lainnya diketahui berada di sebuah sekolah di Yahidne.
Baca juga: Isi Diary Gadis 12 Tahun di Ukraina, Bingung Tentara Rusia Menyerang padahal Punya Banyak Kesamaan
Ratusan warga dikurung di basemen tersebut selama lebih dari tiga minggu.
Viktoria mengatakan, tempat tersebut tidak memiliki ventilasi ataupun jendela dan bukan tempat yang layak untuk ditinggali manusia.
"Ada orang berusia di atas 80 tahun yang menderita sesak napas karena minimnya oksigen," ujar Viktoria.
Viktoria bercerita total ada 12 orang yang tewas di dalam basemen.