Konflik Rusia Vs Ukraina

Merasa seperti Budak, Paramedis Ukraina yang Kini Bebas Mengungkapkan Kengerian di Tahanan Rusia

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Penjara. Terbaru, paramedis Ukraina yang bebas dari tahanan Rusia menuturkan pengalamannya sebagai tawanan perang, Selasa (21/6/2022).

TRIBUNWOW.COM - Paramedis Ukraina yang baru saja dibebaskan dari tahanan Rusia angkat bicara.

Wanita tersebut menuliskan pengalamannya selama berada di tangan pasukan musuh.

Ia mengaku tak diperlakukan secara semestinya hingga merasa seperti seorang budak.

(Ilustrasi kondisi tempat tahanan Rusia) Tangkapan layar dari video yang menunjukkan (dari kiri ke kanan) Aiden Aslin, Shaun Pinner, dan Saaudun Brahim. Ketiganya dituduh sebagai tentara bayaran dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di wilayah separatis pro-Rusia, Republik Rakyat Donetsk yang memproklamirkan diri. (TWITTER @ChristopherJM)

Baca juga: Seiring dengan Pembahasan Uni Eropa, Volodymyr Zelensky Sebut Rusia akan Intensif Serang Ukraina

Baca juga: Aman dari Hinaan hingga Diberi Kasur dan Makan, Ini Kondisi Tahanan Perang dari Azovstal di Rusia

Dilansir TribunWow.com, cerita tersebut dibagikan sang petugas medis, Yulia "Taira" Paievska, melalui laman Facebooknya yang dikutip Ukrinform, Selasa (21/6/2022).

Meski sempat ditahan, Taira mengaku akan segera kembali ke pekerjaan rutinnya.

Ia menolak membagikan foto diri lantaran tak percaya diri dengan kondisi badannya.

"Saya belum akan selfie. Maaf. Berat badan saya sekarang sekitar 50 kg. Saya terlalu lelah dan terlihat buruk. Tapi saya sedang dirawat oleh dokter terbaik dan saya akan segera kembali," kata Taira.

Wanita berambut pirang itu memuji upaya pertukaran tahanan yang berhasil.

"Tidak diragukan lagi merupakan keajaiban Tuhan," ucap Taira.

Selama dalam tahanan, ia menyoroti rekan senasib lainnya yang putus asa.

Mereka bahkan dibuat percaya bahwa Ukraina sudah berhasil ditaklukkan dan tak ada lagi di muka bumi.

"Yang paling menyakitkan saya adalah nasib anak laki-laki dan perempuan yang duduk di balik jeruji besi di bawah kendali musuh, berpikir tidak ada harapan, dan bahwa Ukraina tidak lagi ada sebagai sebuah negara," ujar Taira.

Ia menekankan perlunya memastikan bahwa semua tahanan dilindungi oleh Konvensi Internasional tentang Hak Asasi Manusia.

"Karena ketika kita berada di sana, kita sama sekali tidak berdaya seperti budak," ungkapnya.

Dia mencatat bahwa Rusia tidak memberikan parsel yang dikirim kepada para tahanan.

Mereka juga sama sekali tidak mendapat informasi apa pun tentang keluarga, sementara perawatan medis juga tidak tersedia untuk para tahanan tersebut.

Menurut Taira, kondisinya mirip dengan kamp konsentrasi, dan dia tidak akan terlalu terkejut menemukan dirinya di kamar gas suatu hari nanti.

"Dan ini hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi di kantong batu di sepanjang garis kontak. Topik ini menyakitkan dan mendesak. Semua tahanan harus dibebaskan. Sistem kontrol dan algoritma pertukaran harus dikembangkan," seru Taira.

Seperti yang dilaporkan Ukrinform, pada 17 Juni, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan pembebasan Taira dari penawanan Rusia dengan pertukaran tahanan.

Baca juga: 5 Ulah Tentara Rusia di Ukraina, Tewas seusai Makan Hadiah dari Warga hingga Ramai-ramai Memberontak

Baca juga: Beredar Video Tentara Ukraina Pukuli Tahanan, Ramai-ramai Ejek Korban yang Ngompol saat Dihajar

Rusia Dituduh Kurung Tahanan Ukraina di Kamp Kerja Paksa

Pemerintah Rusia dituding telah memperlakukan tahanan perang para tentara Ukraina secara buruk.

Tudingan ini disampaikan oleh ombudswoman hak asasi manusia Ukraina, Lyudmila Denisova.

Denisova menyebut Rusia telah melanggar hukum internasional karena memperlakukan para tahanan perang tidak sesuai aturan.

Dikutip TribunWow.com dari bbc.com, Rusia disebut menempatkan para tahanan perang di kamp kerja paksa yang aslinya difungsikan untuk para kriminal.

Denisova menyebut ada dua kamp kerja paksa yang dipakai oleh Rusia untuk menempatkan para tahanan perang yakni di daerah Rostov yang dekat dengan perbatasan Ukraina.

Ia mengatakan, para tahanan perang di sana dijaga oleh sipir penjara dan hidup dalam kondisi yang buruk, serta menyalahi aturan konvensi jenewa tentang perlakuan tahanan perang.

Di sisi lain, tentara Ukraina memberikan kesaksian mengenai perlakuan pasukan Rusia yang menangkapnya.

Meski menjadi tawanan perang, para marinir itu mengaku mendapat perlakuan yang layak.

Padahal, tentara-tentara itu sebelumnya sempat merasa takut akan mengalami penyiksaan.

Dilansir TribunWow.com dari TASS, Rabu (20/4/2022), Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Selasa membagikan video tawanan perang Ukraina.

Para tentara Ukraina yang terluka, berbicara tentang perlakuan layak yang diberikan Rusia terhadap mereka.

Yury Andrieyenko, seorang pelaut dari Brigade Marinir ke-36 Ukraina, menceritakan awal mula luka yang didapat.

Ia mengaku terkena ledakan ranjau yang dipasangnya sendiri.

Kemudian setelah ditemukan tentara Rusia, Andrieyenko segera mendapat perawatan.

“Saya menderita luka setelah ledakan yang disebabkan oleh jebakan, yang saya coba pasang sendiri,"kata Andrieyenko.

"Saya tetap berbaring di lantai beton selama dua hari. Saya kemudian ditemukan oleh tentara milisi. Mereka membawa saya ke rumah sakit."

Awalnya, Andrieyenko tak menyangka pasukan Rusia justru menyelamatkannya alih-alih menghabisi nyawanya.

Pasalnya Andrieyenko selama ini diberitahu bahwa tentara Ukraina akan disiksa jika tertangkap.

"Sejujurnya, saya terkejut. Saya diperlakukan sama seperti manusia biasa lainnya. Saya tidak mengharapkan perlakuan seperti itu," ucap Andrieyenko.

"Kami semua diberitahu sebelumnya bahwa kami akan dipukuli, tetapi (ternyata) tidak ada apa-apa."

Pelaut itu menambahkan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter yang merawatnya.

Pelaut lain yang ditangkap adalah Yury Podavansky dari Brigade Marinir ke-36 Ukraina.

Podavansky mengatakan dia menderita luka parah di kakinya sebelum dia ditawan.

"Ketika mereka menemukan kami, mereka merawat saya dan anak buah lainnya bersama saya, memberikan pertolongan pertama. Karena bantuan medis yang segera mereka berikan, nyawa lima orang terselamatkan," kata Podavansky.

"Setelah itu kami dibawa ke rumah sakit di mana kami menerima bantuan medis yang memenuhi syarat," lanjutnya.

Setelah sadar, Podavansky mengaku diperlihatkan peluru yang bersarang di tubuhnya.

"Saya bangun beberapa hari yang lalu, seorang ahli bedah mendekati saya menunjukkan peluru, yang dia ambil dari tubuh saya, dan berkata 'Nak, kamu akan tetap hidup'," ujar Podavansky.

Pelaut itu juga mengatakan bahwa semua tentara Ukraina yang dipenjara mendapatkan nutrisi yang cukup.

Mereka bahkan dirawat bersama militer Rusia dan pasukan separatis Donestk serta Luhanks.

"Saya tidak mengharapkan perlakuan seperti itu. Kami diberitahu sebaliknya. Tapi kenyataannya, kami diperlakukan dengan sangat baik," kata pelaut itu.

"Kami berbagi rumah sakit di sini dengan mereka. Kami semua diperlakukan sama."(TribunWow.com/Via/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina