Konflik Rusia Vs Ukraina

Jubir Putin Buka Suara soal Nasib 2 Warga AS yang Tertangkap saat Bantu Ukraina Perangi Rusia

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Alexander Drueke, veteran tentara Amerika Serikat (AS) yang ditangkap oleh pasukan militer Rusia saat terlibat membantu tentara Ukraina.

TRIBUNWOW.COM - Belum lama ini pemerintah Rusia mengumumkan telah menangkap dua warga Amerika Serikat (AS) yang terlibat membantu pasukan militer Ukraina memerangi tentara Rusia.

Dua orang itu adalah Alexander Drueke and Andy Huynh yang dulunya pernah aktif menjadi tentara pasukan militer AS.

Dikutip TribunWow.com dari rt.com, pemerintah Rusia menganggap kedua orang tersebut sebagai tentara bayaran.

Alexander Drueke (kanan) dan Andy Huynh (kiri), kedua mantan tentara Amerika Serikat (AS) ini diamankan oleh pasukan militer Rusia seusai terlibat dalam konflik di Ukraina. (Thesun.co.uk)

Baca juga: Sebut Inggris Harus Siap Hadapi Rusia, Eks Kepala Pasukan Khusus Soroti Potensi Putin Perangi Barat

Baca juga: Putin Kehilangan Kolonel ke-55 Rusia yang Gugur setelah Helikopter-nya Ditembak Rudal Ukraina

Hal ini diungkapkan oleh juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov.

Peskov mengatakan, nasib kedua warga AS tersebut kini tergantung dari hasil investigasi.

Namun keduanya telah dianggap terlibat dalam aktivitas ilegal hingga menembaki tentara Rusia.

Drueke dan Huynh diketahui ditangkap di Donbass lalu kini ditempatkan di pusat penahanan di Republik Rakyat Donetsk.

Kepada media Rusia RT, Jumat (17/6/2022), keduanya sempat menuturkan kisah penangkapan mereka dan pengalamannya bergabung dalam pasukan Ukraina.

Keduanya merasa terpanggil untuk ikut terjun membantu Ukraina dan berangkat ke Eropa meninggalkan keluarganya.

Mereka kemudian ditugaskan di Kharkiv di mana pertempuran sengit antara pihak Ukraina dan Rusia terjadi.

Namun kemudian, Rusia berhasil mengusir pasukan Ukraina yang menyebabkan mereka berdua ikut melarikan diri.

Setelah beberapa saat, Drueke dan Huynh pun memilih menyerah pada pihak Rusia yang tak sengaja ditemui saat sedang berpatroli.

Kedua pria itu menggambarkan perlakuan manusiawi di tahanan Rusi, mereka mendapat makanan, selimut hangat, dan rokok.

Namun, Drueke mengatakan bahwa dia telah mendengar desas-desus bahwa mereka berpotensi dijatuhi hukuman mati.

Pekan lalu, Republik Rakyat Donetsk yang bersekutu dengan Rusia menjatuhkan hukuman mati kepada tiga pejuang asing yang ditangkap dalam pertempuran di Mariupol, termasuk dua warga Inggris.

Pengadilan tinggi republik memutuskan bahwa mereka adalah tentara bayaran dan dengan demikian tidak diberikan hak istimewa seperti tawanan perang biasa di bawah hukum internasional.

Drueke mengatakan bahwa sementara dia tidak percaya pada liputan berita Amerika, dia yakin bahwa perjuangan Ukraina akan menarik bagi para veteran sepertinya.

"Ada dua sisi dari cerita ini dan saya tidak mendapatkan salah satunya," kata Drueke membandingkan propaganda Barat dan kenyataan di Ukraina.

Huynh, rekannya, mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke Ukraina pada bulan April dan menghubungi seorang pendeta Polandia yang mengawasi bantuan kemanusiaan.

Setelah bergabung dengan pasukan Ukraina, dia pergi tak lama setelah itu, dengan alasan adanya korupsi dan disorganisasi dalam barisan.

"Para komandan sangat korup dan pasukan sangat tidak siap dan kekurangan logistik," ujar Huynh.

Sementara, Drueke yang juga memulai tugasnya di Ukraina dengan pasukan yang sama, mengatakan dia tidak puas dengan kualitas orang mereka.

Baca juga: Merasa seperti Budak, Paramedis Ukraina yang Kini Bebas Mengungkapkan Kengerian di Tahanan Rusia

Kedua pria tersebut melakukan perjalanan ke negara itu untuk mencari unit yang lebih kompeten untuk bergabung.

Sebelum kemudian mereka bergabung dengan 'Task Force Baguette' di Ukraina timur, sebuah unit tentara bayaran asing yang sebagian besar terdiri dari veteran Amerika dan Prancis.

Pengakuan Tentara Inggris yang Dijatuhi Hukuman Mati

Warga negara Inggris Aiden Aslin sempat melakukan wawancara dengan media Rusia rt.com sebelum dirinya menerima vonis hukuman mati di pengadilan di Donetsk.

Aslin ditangkap pasukan militer Rusia saat terlibat dalam konflik di Ukraina kemudian menyerah pada pertengahan April 2022.

Saat diwawancara rt.com, Aslin mengaku sudah sejak lama mengikuti perjalanan konflik Ukraina sejak tahun 2014 lalu.

Pada awalnya Aslin mengaku dirinya merupakan orang yang pro terhadap Rusia dan pro Donbass.

Dikutip TribunWow.com, Aslin bercerita, pandangannya terhadap Rusia mulai berubah setelah ia melihat pemberitaan dari media-media barat seperti CNN hingga Fox News.

Namun semenjak menyerah ke milisi Republik Rakyat Donetsk, Aslin mengaku pandangannya kembali berubah dan kini ia merasa memiliki banyak kesamaan dengan prajurit di Donbass ketimbang tentara Ukraina.

Melihat perjalanan hidupnya, Aslin bercerita ia seharusnya mencari pekerjaan untuk warga sipil, bukannya bergabung dengan pasukan militer Ukraina.

"Tidak memilih untuk menjadi bidak politik di dalam sistem militer," kata Aslin.

Baca juga: Akhirnya Ditemukan, 2 Veteran Tentara AS Disebut Menyerah ke Rusia dan Menyesal Bela Ukraina

Baca juga: Terekam Kamera Satelit Bawa Kabur Gandum Ukraina ke Suriah, Rusia Beri Bantahan

Aslin kini merasa dirinya telah ditelantarkan oleh negaranya sendiri yakni Inggris dan Ukraina.

Saat ini Aslin meminta kepada warga negara lain yang ingin bergabung dengan Ukraina untuk kembali mempertimbangkan pilihan mereka.

Ia mengatakan jangan sampat tertipu ikut dalam konflik di Ukraina yang seharusnya tidak perlu terlibat.

Sebelumnya dikabarkan Aslin dan rekannya Shaun Pinner dijatuhi vonis hukuman mati seusai menjalani persidangan di Donetsk.

Keduanya ditangkap oleh pasukan militer Rusia seusai terlibat membantu tentara Ukraina dalam konflik di Ukraina.

Informasi terbaru, Aslin dan Pinner diketahui telah menghubungi media massa di negara asalnya mengirimkan permohonan tertulis.

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, Aslin dan Pinner menjelaskan bahwa mereka terancam dihukum mati jika permintaan pemerintah Rusia tidak dikabulkan.

Dengan suara bergetar, Pinner menjelaskan dirinya menghadapi ancaman hukuman 20 tahun penjara hingga mati seusai dihukum sebagai kombatan ilegal.

"Kami ketakutan," ujar Pinner.

Menanggapi kabar ini, keluarga Aslin telah menemui kedutaan Besar Ukraina di Notting Hill, London Barat.

Di sana ia menjelaskan bahwa Aslin dan Pinner merupakan bagian resmi dari pasukan militer Ukraina.

"Harus diperlakukan dengan hormat seperti tahanan perang lainnya. Mereka bukan dan tidak pernah menjadi tentara bayaran," ujar keluarga Aslin.

Keluarga Aslin kini berharap vonis Aslin dapat berubah, mereka juga memohon bantuan pemerintah Inggris dan Ukraina untuk berusaha maksimal membantu keselamatan Aslin dan Pinner.

Aslin dan Pinner kini memiliki waktu satu bulan untuk mengajukan banding atas vonis hukuman mati yang mereka terima.

Media Rusia memberitakan, vonis Aslin dan Pinner dapat berkurang menjadi 25 tahun penjara hingga hukuman penjara seumur hidup.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah Inggris disebut tengah mendapat masalah besar gara-gara ada dua warga negaranya terlibat dalam konflik di Ukraina dan kini berakhir ditangkap oleh tentara Rusia.

Dua orang itu adalah Shaun Pinner dan Aiden Aslin.

Keduanya bahkan sempat dipertontonkan ke publik lewat sebuah acara milik stasiun televisi (TV) pemerintah Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari Skynews.com, eks diplomat Inggris, Lord Ricketts menyoroti bagaimana hal ini merupakan masalah besar bagi pemerintah Inggris.

Ricketts mengungkit bagaimana pemerintah Inggris sebenarnya telah melarang keras warganya agar tidak pergi ke Ukraina.

Ricketts juga menyampaikan bagaimana pemerintah Rusia memanfaatkan momen ini untuk menekan Ukraina lewat pemerintah Inggris.

Dalam situasi ini, menurut Ricketts pemerintah Inggris tengah mengalami dilemma bagaimana harus merespons.

Saat ditampilkan di TV Rusia, Shaun dan Aiden berharap agar mereka dapat pulang kembali ke Inggris dengan cara pertukaran tahanan dengan politisi pro Rusia Viktor Medvedchuk yang kini ditahan oleh Ukraina.(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina