Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Ungkit WHO yang Diam Tak Bereaksi saat Tentara Ukraina Gunakan RS untuk Kepentingan Militer

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kompleks Rumah Sakit Bersalin di Mariupol,Ukraina, mendapat serangan dari Rusia saat gencatan senjata seharusnya sudah dimulai, Rabu (9/3/2022).

TRIBUNWOW.COM - Organisasi Kesehatan Dunia alias World Health Organization (WHO) disebut diam tak bereaksi ketika para tentara Ukraina menggunakan fasilitas kesehatan demi kepentingan militer.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Pusat Manajemen Pertahanan Nasional Rusia Mikhail Mizintsev.

Mizintsev menyebut, para tentara Ukraina menggunakan rumah sakit sebagai basis militer dan tempat untuk melakukan serangan.

Baca juga: Bagikan Foto Pentagram, Rusia Klaim Temukan Bekas Pemujaan Setan di Markas Tentara Azov Ukraina

Baca juga: Menikah saat Konflik, Wanita di Ukraina Menjanda dalam Waktu 3 Hari karena Serangan Tentara Rusia

Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, Mizintsev mengomentari seharusnya fasilitas kesehatan digunakan sesuai kepentingannya.

Mizintsev meminta kepada seluruh organisasi internasional untuk menekan pejabat pemerintahan Ukraina agar melarang penggunaan fasilitas publik dan warga sipil untuk kepentingan militer.

Mizintsev mencontohkan bagaimana pasukan Ukraina mengirimkan senjata dan tentara mereka ke bangunan-bangunan sekolah.

Selain itu, Mizintsev turut mengungkit bagaimana pasukan nasionalis Ukraina menggunakan pemukiman warga sipil sebagai markas penembak jitu.

Mizintsev menyindir bagaimana fakta-fakta ini justru diabaikan oleh komunitas internasional, negara-negara barat, serta para politisi dan aktivis hak asasi manusia.

Di sisi lain, sebuah badan pengawas hak asasi manusia terkemuka memberikan bukti-bukti bahwa pasukan Rusia melakukan kejahatan perang.

Pasukan tersebut dituding melakukan eksekusi singkat, penyiksaan dan pelanggaran berat lainnya di dua wilayah Ukraina.

Tudingan itu diterbitkan dalam sebuah laporan yang mendokumentasikan kasus lanjutan dari kejahatan perang pasukan invasi Rusia.

Dilansir TribunWow.com dari Aljazeera, Human Rights Watch (HRW) dalam laporannya yang diterbitkan pada Rabu (18/5/2022), mendokumentasikan kejahatan perang yang terjadi dari akhir Februari hingga Maret.

Disebutkan adanya 22 eksekusi singkat, sembilan pembunuhan di luar hukum lainnya, enam kemungkinan penghilangan paksa dan tujuh kasus penyiksaan.

Dua puluh satu warga sipil mengatakan kepada HRW tentang pengurungan yang melanggar hukum dalam kondisi yang tidak manusiawi dan merendahkan selama periode pasukan Rusia menguasai sebagian besar wilayah Kyiv dan Chernihiv, katanya.

Baca juga: Putin Puji Perjuangan Para Tentara Rusia yang Muslim di Ukraina: Menunjukkan Keberanian

HRW menyerukan agar dugaan pelanggaran ini diinvestigasi secara tidak memihak dan dituntut dengan tepat.

Halaman
1234