TRIBUNWOW.COM - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengklaim negara-negara Barat telah mendeklarasikan perang hibrida total kepada Rusia.
Hal tersebut disampaikan Lavrov dalam Majelis Dewan Kebijakan Pertahanan dan Luar Negeri Rusia di Oblast Moskow, Sabtu (14/5/2022).
Lavrov memberi peringatan, bahwa tindakan itu bisa menimbulkan konsekuensi yang akan dirasakan oleh semua orang tanpa kecuali.
Perang hibrida yang dimaksud Lavrov adalah perang yang melibatkan militer dan non militer.
Baca juga: VIDEO Warga Ukraina Pura-pura Mati saat Dikubur, Beri Kesaksian Telah Disiksa Tentara Rusia
Perang politik yang memadukan berbagai jenis perang seperti perang konvensional, perang ireguler, perang siber.
Perang itu dilangsungkan dengan berbagai metode non-konvensional, seperti penggunaan diplomasi dan propaganda berita palsu.
Dikutip Tribun-Video.com dari Sputniknews.com, dalam pertemuan itu Lavrov mengatakan sulit memprediksi berapa lama perang hibrida ini akan berlangsung.
Namun, yang pasti Rusia telah menerimba tantangan itu.
Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Hari ke-83, Evakuasi Tentara Kiev hingga Putin Urus Langsung Strategi Perang
Tidakan Barat juga telah sangat menentukan jalan yang akan diambil Rusia dalam waktu dekat.
Pada saat yang sama, Lavrov menyatakan keyakinannya bahwa dampaknya akan dirasakan oleh semua orang.
“Pilihan yang kami buat, yang secara praktis telah kami buat, didorong oleh Barat meluncurkan perang hibrida habis-habisan melawan negara kami. […] Kami melakukan semua yang kami bisa untuk menghindari konfrontasi, tetapi Rusia menerima tantangan itu. . Ini tidak seperti sanksi adalah sesuatu yang baru bagi kami – mereka telah diterapkan dalam beberapa hal praktis untuk sepanjang waktu", katanya.
Keputusan Rusia untuk tak berpikir lama menerima tantangan itu, tak lain karena saat ini berada di persimpangan jalan bersejarah yang mirip dengan tahun 1991.
Baca juga: VIDEO Warga Ukraina Pura-pura Mati saat Dikubur, Beri Kesaksian Telah Disiksa Tentara Rusia
Di mana saat itu Uni Soviet tidak ada lagi, dan 1917, ketika Revolusi Oktober membawa Partai Bolshevik ke tampuk kekuasaan.
Dia mencatat bahwa jalan yang dipilih hari ini akan menentukan tempat Rusia di tatanan dunia baru.
Menlu Rusia itu kemudian mengecam kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) yang dianggapnya menyerang siapa pun yang menentang Washington.