TRIBUNWOW.COM - Pasukan Rusia mengklaim telah menghancurkan gudang logistik di Odessa, Ukraina yang menyimpan sejumlah besar senjata asing.
Namun, pihak berwenang kota mengklaim bahwa serangan tersebut telah menghancurkan pemukiman sipil.
Akibatnya sejumlah orang termasuk bayi yang baru berusia 3 bulan ikut meninggal.
Baca juga: Serbu Kantor Media di Ukraina, Tentara Rusia Ancam Jurnalis agar Sebarkan Berita Ini
Baca juga: Citra Satelit Ungkap Kuburan Massal di Mariupol, Rusia Dituding Sembunyikan Bukti Kejahatan Perang
Dilansir TribunWow.com dari media Rusia RT, Sabtu (23/4/2022), Ukraina dikabarkan berhasil menghancurkan dua rudal kiriman Rusia saat insiden terjadi.
Tetapi empat misil lainnya dilaporkan mengenai sasaran militer dan bangunan tempat tinggal, yang menyebabkan korban.
Namun belum jelas apakah bangunan sipil itu hancur akibat upaya pasukan Ukraina untuk menjatuhkan rudal yang awalnya ditujukan pada sasaran militer, atau memang dijadikan sasaran utama.
Menurut juru bicara militer Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, serangan itu ditujukan pada pangkalan militer tempat penyimpanan senjata milik Ukraina.
"Rudal yang diluncurkan dari udara dengan presisi tinggi menghantam terminal logistik yang terletak di lapangan terbang militer dekat Odessa," kata juru bicara militer Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov.
"(Tempat) di mana sejumlah besar senjata asing diterima dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa disimpan."
Diketahui, Rusia telah berulang kali memperingatkan NATO agar tidak mengirim senjata ke Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa mereka akan menganggap konvoi pengiriman senjata sebagai target militer yang sah.
Sebelumnya, layanan darurat regional Odessa mengatakan bahwa sebagai akibat dari tembakan musuh, sebuah bangunan perumahan enam belas lantai terbakar.
Kebakaran hebat itu baru padam dalam waktu sekitar dua setengah jam.
"Saat ini diketahui 6 orang meninggal dunia, termasuk satu anak-anak, dan 18 orang luka-luka. Dua orang diselamatkan dari puing-puing, 86 orang dievakuasi," kata pihak berwenang dalam sebuah pernyataan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, berbicara kemudian pada konferensi pers di Kiev, menguraikan klaim ini.