TRIBUNWOW.COM - Sejumlah pengungsi dari Ukraina menceritakan kondisi pasca invasi yang dilakukan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dikutip dari BBC Indonesia, pengungsi bernama Roman mengungkap kondisi pengungsi kini sangat memprihatinkan.
"Kami tidak membuat perang ini ... tapi hanya Ukraina sekarang dan Ukraina kuat. Saya harap kami akan menjadi pemenangnya," kata Roman kepada saya, sambil terbungkus bendera Ukraina - seperti banyak orang lain di sini - saat menunggu di Polandia sisi perbatasan.
Baca juga: Curhat Pengungsi Ukraina yang Terdampak Invasi Rusia, Berhari-hari Tanpa Makanan hingga Kedinginan
Roman adalah satu dari perkiraan 1,5 juta rakyat Ukraina yang telah tinggal di Polandia - jumlah yang kini terus bertambah setiap hari.
Menurut laporan PBB, sudah satu juta orang telah meninggalkan Ukraina sejak invasi Rusia pada 24 Februari 2022 lalu.
Badan-badan pengungsi khawatir, hingga lima juta orang Ukraina diprediksi akan menyelamatkan diri melintasi perbatasan sejak serangan Rusia dimulai dan korban jiwa meningkat.
Roman telah tidur di mobilnya di perbatasan sejak mendapat kabar bahwa istri dan anak temannya sedang melakukan perjalanan keluar.
Terjadi antrean panjang mobil di wilayah perbatasan - keluarga-keluarga Ukraina menunggu untuk menghibur orang-orang terkasih yang telah lolos dari perang.
Roman tahu bahwa dia tidak akan bisa melihat temannya ketika keluarga istri dan anak kawannya itu akhirnya tiba di Polandia.
Baca juga: Ada Peran Prabowo di Balik Evakuasi WNI dari Ukraina, Intens Jalin Komunikasi dengan Menhan Rusia
Dia mengatakan bangga kepada orang-orang Ukraina yang memutuskan tinggal dan bergabung melawan Rusia, daripada pergi.
Eropa tidak asing dengan gelombang migran yang tiba-tiba: pada tahun 2015, lebih dari satu juta migran dan pengungsi, sebagian besar warga Suriah, tiba di benua itu melalui darat dan laut untuk melarikan diri dari perang.
Tapi setelah perang Balkan pada 1990-an, dunia belum pernah menyaksikan begitu banyak orang terlantar dari benua Eropa akibat perang ini.
Momen reuni keluarga yang terpisah adalah hal yang pahit. Jelas ada kelegaan dan pelukan panjang, tetapi orang-orang itu terdiam.
Mereka turun dari bus, banyak yang menangis, membawa tas dan anak-anak.
Mereka menyerahkannya kepada kerabat dan teman, yang telah menunggu sebelum fajar.