Ritual di Pantai Payangan Jember

Fakta Kelompok Tunggal Jati Nusantara, Penggelar Ritual yang Berujung Tewasnya 11 Orang di Jember

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Korban meninggal dunia ke-11 saat gelar ritual di Pantai Payangan Jember ditemukan, Minggu (13/2/2022) .

TRIBUNWOW.COM - Inilah profil Kelompok Tunggal Jati Nusantara yang melakukan ritual hingga berujung maut di Pantai Payangan Jember, Jawa Timur, Minggu (13/2/2021).

Sebanyak 11 orang tewas terseret ombak dalam ritual tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, Kades Dukuh Mencek Nanda Setiawan mengatakan, kelompok Tunggal Jati Nusantara berada di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Pencarian korban terseret ombak Pantai Payangan Jember, Minggu (13/2/2022). (TribunJatim.com/Sri Wahyunik)

Baca juga: Firasat Korban Tewas Ritual Maut di Pantai Payangan, Sempat Mimpi Keranda, Begini Kata Keluarga

Kelompok ini dipimpin oleh Hasan.

Dia selamat dalam peristiwa kecelakaan di pantai selatan itu.

“Kalau saya katakan padepokan, itu bukan padepokan,” kata Nanda pada Kompas.com via telpon Senin (14/2/2022).

Sebab, menurut Nanda, tempat yang digunakan berkegiatan yakni di ruang tamu rumah Hasan.

Pada malam Jumat, kelompok tersebut menggelar kegiatan di rumah Hasan.

Kegiatan yang dilakukan bukan hal yang aneh, yakni membaca Al Qur'an, dzikir hingga selawat.

“Itu dilakukan sekitar dua bulan sekali,” ujar dia.

Pihak Desa Mulanya Tak Curiga

Pihak desa tidak curiga dengan kegiatan tersebut karena kegiatan dirasa cukup positif.

Bahkan, kegiatan itu sudah berlangsung sekitar dua tahun, yakni sejak pandemi Covid-19 melanda.

“Awalnya seperti itu, tapi kok lama-lama ada seperti ini, itu saya kurang tahu,” tambah dia.

Dia mengatakan Hasan sendiri bukan kiai atau ustaz.

Pendiri tunggal jati nusantara itu sempat merantau ke Malaysia.

Baca juga: Sosok Bripda Febriyan, Oknum Polisi Korban Tewas Ritual Maut di Pantai Payangan, Ini Pengakuan Istri

Lalu pada tahun 2014 dia kembali ke Desa Dukuh Mencek.

“Cukup lama dia di Malaysia, sekitar 2014 datang,” tutur dia.

Ketika kembali itu, pekerjaan Hasan cukup beragam, seperti menjadi MC.

Bahkan sekarang juga sering berjualan online.

“Kerjanya kadang-kadang MC dangdut, sementara ini jual online, kayak tisu,” terang dia.

Didatangi Warga dengan Berbagai Keluhan

Nanda mengaku, para anggota kelompok tunggal jati nusantara itu ada yang datang untuk berobat, punya masalah ekonomi, maupun masalah keluarga.

“Kayaknya orang yang datang ke sana itu yang susah, mungkin sakit atau kesulitan ekonomi dan masalah keluarga,” papar dia.

Dia menilai warga yang datang untuk ikut kegiatan itu berasal dari luar desa.

Kemungkinan mereka melakukan ritual guna menyelesaikan masalah yang dialami.

Dia mengaku baru mendengar bila ada kegiatan ritual di Pantai Payangan.

Baca juga: Fakta Baru Ritual Maut di Pantai Payangan, Motif Ilmu Hitam hingga Pengakuan Juru Kunci Terungkap

Namun setelah ditelusuri, ternyata sudah beberapa kali menggelar ritual ke pantai, tapi anggotanya tidak sebanyak sekarang.

“Orangnya tidak sebanyak sekarang,” ucap dia.

Nanda juga tidak mengetahui betul arti nama Tunggal Sejati Nusantara itu.

Nama itu tercetak seperti tulisan kaligrafi di rumah Hasan.

“Rumah yang dipakai itu ruang tamu biasa, tidak ada padepokan atau aulanya,” tutur dia.

Sebelumnya diberitakan sebanyak 23 orang terseret ombak di Pantai Payangan, di Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu sekitar pukul 00.25 WIB.

Mereka berangkat dari titik berkumpul di Desa Dukuhmencek Kecamatan Sukorambi menuju Pantai Payangan pada Sabtu malam pukul 23.00 WIB.

Para warga tersebut berasal dari Kecamatan Panti, Patrang, Sukorambi, Sumbersari, Ajung dan Jenggawah.

Tiba disana, petugas pantai sudah mengingatkan agar tidak ke laut karena ombak besar.

Namun mereka tetap menggelar ritual hingga akhirnya terseret ombak.

Kata Bupati Jember soal Tunggal Jati Nusantara

Sementara itu dikutip dari Tribunnews.com, tak banyak infromasi perihal Padepokan Tunggal Jati Nusantara di dunia maya.

Menurut keterangan Bupati Jember, Hendy Siswanto, Tunggal Jati Nusantara bukanlah nama asli dari padepokan tersebut.

Nama asli dari padepokan itu yakni Garuda Nusantara.

"Itu nama kelompoknya Padepokan Garuda Nusantara, tapi nama populernya Tunggal Jati Nusantara," kata Hendy sebagaimana dikuti dari video wawancara di MetroTV, Senin (14/2/2022).

Hendy mengatakan padepokan tersebut masih baru dan diduga tidak memiliki izin.

Meski demikian, Hendy menyatakan bakal melakukan pengecekan lebih lanjut untuk memastikan apakah padepokan itu benar-benar tidak memiliki izin.

Adapun anggota padepokan ini sebanyak 40 orang.

Perihal ritual di pantai yang diadakan, Hendy mengaku tidak bisa memantau karena kelompok ini beberapa kali melakukan ritual di dua tempat yang berbeda.

Ritual diadakan pukul 21.00 hingga 01.00.

"Belum terpantau, terus terang saja, karena mereka melakukan ritual itu dua tempat lainnya itu di sungai, dan ndak tahu kita jadwal mereka," bebernya.

Baca berita lainnya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Apa Itu Kelompok Tunggal Jati Nusantara, Penggelar Ritual Berujung Tewasnya 11 Orang di Jember?" dan di Tribunnews.com dengan judul Profil Padepokan Tunggal Jati Nusantara yang Gelar Ritual di Pantai, Berujung 11 Orang Tewas