Pengakuan Polisi
Sebelumnya, tempat mirip kerangkeng di rumah Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin ini diketahui setelah pihak KPK yang melibatkan Polda Sumut melakukan penggeledahan terkait kasus korupsi.
Di sana, petugas menemukan ada empat orang yang terkurung di kerangkeng pribadi itu.
Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak menyebut bahwa petugas menemukan empat orang di dalam tempat mirip kerangkeng ditu saat melakukan operasi tangkap tangan (OTT) kepada Terbit Rencana Perangin Angin.
"Pada waktu kemarin teman-teman KPK yang kita backup teman-teman sekalian melakukan operasi tangkap tangan datang kerumah pribadi Bupati Langkat."
"Dan kita temukan betul ada tempat menyerupai kerangkeng yang berisi 3-4 orang pada waktu itu," kata Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak, Senin (24/1/2022), dikutip dari Tribun Medan.
Baca juga: Polisi Diadang Warga saat Evakuasi 27 Penghuni Kerangkeng Bupati Langkat, Diminta Kembalikan ke Sel
Bahkan, empat orang yang ada di balik jeruji besi itu nampak luka-luka saat pertama kali ditemukan petugas.
Menurut informasi sementara, Panca Putra Simanjuntak menyebut bahwa kerangkeng mirip kerangkeng itu digunakan untuk rehabilitasi para pecandu narkoba.
Tempat itu juga disebut tidak memiliki izin.
"Ternyata dari hasil pendalaman kita, memang itu adalah tempat rehabilitasi yang dibuat oleh yang bersangkutan secara pribadi," ucapnya.
Hal itu belum dipastikan kebenarannya dan belum diketahui apakah empat orang itu positif narkoba atau tidak.
Bahkan, meski tak memiliki izin, tempat mirip kerangkeng itu sudah ada di sana selama 10 tahun.
Semuanya, juga dipekerjakan di lahan perkebunan sawit milik Terbit Rencana Peranginangin.
"Yang bersangkutan menerangkan bahwa itu, waktu saya tangkap, dia di perjalanan saya dalami itu sudah lebih dari 10 tahun," ucapnya.
Kondisi Penghuni Kerangkeng saat Ditemukan
Saat ditemukan, sejumlah pria yang terkurung di kerangkeng atau penjara milik Bupati Langkat, Terbit Rencana Peranginangin, dalam kondisi ketakutan.
Kuat dugaan para pria di dalam kerangkeng tersebut merupakan pekerja di perkebunan sawit milik sang bupati.
Penanggungjawab Migrant Care, Anis Hidayah menyebut kerangkeng yang ditemukan di rumah Terbit Rencana Peranginangin itu sebagai tempat penyiksaan.
Anis menduga Terbit menggunakan modus rehabilitasi untuk mengurung dan menyiksa para pekerja tersebut.
Berdasarkan hasil penelusuran Migrant Care, sudah ada 40 orang yang pernah menghuni kerangkeng itu.
Baca juga: Heboh kerangkeng Pribadi di Rumah Bupati Langkat, Penghuni Ditemukan Babak Belur, Ini yang Terjadi
Mereka semua disiksa lalu dipaksa bekerja selama 10 jam.
"Ada dua sel di dalam rumah Bupati yang digunakan untuk memenjarakan sebanyak 40 orang pekerja setelah mereka bekerja," ucap Anis seusai melapor ke Komnas HAM, dikutip dari TribunMedan.com, Senin (24/1/2022).
Para tahanan itu disebut dipekerjakan mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB.
Setelah bekerja, para pekerja itu diduga dipukuli oleh orang suruhan Bupati Langkat.
Karena itulah, kata Anis, para tahanan dalam kondisi babak belur saat ditemukan KPK.
"Mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng atau sel setelah bekerja agar tidak punya akses kemana-mana," ucapnya.
Saat ditemukan, kerangkeng dalam kondisi tergembok.
Tampak seorang korban mengalami luka lebam di mata dan wajahnya.
Dalam video yang beredar, para korban terlihat ketakutan dan matanya berkaca-kaca saat ditemukan.
Di dalam kerangkeng, terdapat dipan dan tikar serta tali jemuran untuk menggantung pakaian korban.
Tampak pula adanya botol air mineral, sapu, dan lemari kecil.
Keberadaan kerangkeng itu pertama kali ditemukan oleh penyidik KPK saat melakukan penggeledahan di rumah Bupati Langkat.
Sebagai informasi, Bupati Langkat terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK beberapa waktu lalu. (TribunWow.com)
Artikal ini diolah dari Tribun Medan yang berjudul WAJAH 40 Korban Kerangkeng Bupati Langkat Ketakutan dan Matanya Berkaca-Kaca Saat Ditemukan KPK, KAPOLDA Sumut Akui Temukan Empat Orang Dikerangkeng di Rumah Bupati Langkat saat OTT, dan Kompas.com dengan judul "Soal Kerangkeng di Rumah Bupati Nonaktif Langkat, Kepala Desa Bantah Adanya Perbudakan Modern"