Jenengku di blur ya min'
Versi terjemahan:
"Min aku mau curhat sambil bertanya, aku perantauan sudah 10 tahun di Solo. Kalau ada orang tanpa seragam petugas parkir biasanya ada di toko-toko, dan lain-lain, itu apakah petugas parkir min? Atau bukan? Soalnya sering sekali aku kalau berhenti tidak ada 10 menit dikenakan Rp 2 ribu. Mungkin enggak semua tempat. Misal aku lagi fotocopy habisnya seribu, plus parkir motor jadi kena Rp 2 ribu, total Rp 3 ribu jadinya. Tidak seberapa duitnya tapi kalau sehari 10 kali kerasa banyak min. Apa hanya aku yang mengalami ya min.
Namaku di-blur ya min"
Dalam unggahan itu, seorang warganet dengan akun @ameeliawu turut menceritakan pengalamannya dimintai tukang parkir ketika mengambil uang di atm.
Gibran pun langsung merespons lewat akunnya @gibran_rakabuming.
"@ameeliawu dimana?" tulis Gibran.
Ia juga menjawab keluhan serupa terkait tukang parkir liar dari warganet @lolo_agita.
Serupa dengan keluhan yang pertama, Gibran langsung menanyakan kejadian tukang parkir liar itu terjadi dimana.
"@lolo_agita, itu kejadiannya dimana?" tulis @gibran_rakabuming.
Selain Gibran, akun resmi Dinas Perhubungan Surakarta turut berkomentar dan meminta agar warganet memberikan info yang lengkap supaya pemkot bisa bertindak cepat.
"Memberi info jangan setengah" agar kami bisa bertindak cepat , Kejadian KAPAN ? Lokasi tepat DIMANA ? Ada foto juru parkir lebih baik silahkan DM kami , pastikan lokasi berada di Kota Surakarta" tulis @dishubsurakarta.
Saat dihubungi TribunSolo.com, Rabu (14/4/2021), Gibran mengakui dirinya memang aktif memantau media sosial terkait curhatan warga di Solo.
“Ya nanti akan saya ulas, ada yang ngeluh di media sosial, ada yang langsung wa ke saya, itu semuanya menyumbang kan unek unek untuk kota Solo,” ujar Gibran, Rabu (14/4/2021).
Gibran mengatakan bahkan dirinya senang dikirimi foto-foto terkait permasalahan yang ada di Solo.