Terkini Daerah

Akui Cium Santriwati, Pimpinan Ponpes di Pinrang Ngaku Anggap Korban Anak Sendiri

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pimpinan Pondok Pesantren Tassbeh Baitul Qur'an, Sulaiman Milla buka suara terkait tuduhan pelecehan seksual melalui video klarifikasi yang diupload oleh akun Facebook New Pinrang Sidrap, Rabu (3/11/2021).

TRIBUNWOW.COM - Pimpinan sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Tengah bernama Sulaiman Milla menyampaikan klarifikasi soal aksinya mencabuli seorang santriwati pada September 2021 lalu.

Sulaiman berdalih ia merasa korban sudah seperti anaknya sendiri sehingga aksi mencium korban ia anggap kasih sayang orangtua ke anak.

Atas aksinya ini, Sulaiman telah dilaporkan ke polisi oleh pihak korban.

Baca juga: Kepala SD Jadi Terduga Teroris, Polisi Selidiki Kemungkinan Paham Radikalisme Disebarkan di Sekolah

Baca juga: Bergaya seperti Polisi, Ini Penampakan Sosok Banpol yang Difoto Danu sebelum Masuk TKP Kasus Subang

Dikutip TribunWow.com dari TribunPinrang.com, video klarifikasi Sulaiman beredar di akun Facebook New Pinrang Sidrap, Rabu (3/11/2021).

"Inilah manusia biasa, kita merasa ini kasih sayang orang tua terhadap anaknya tetapi ternyata salah," kata Sulaiman di dalam video.

"Di sisi lain salah karena persepsinya dia bukan anak (kandung) ku. Tapi saya yang merasa mereka anak-anakku," sambungnya.

Atas aksinya itu, Sulaiman menyampaikan permohonan maaf.

Ia meminta kepada orangtua santri dan pengajar di ponpes agar bersabar menunggu proses kasus ini selesai.

"Semoga semua sabar menghadapi ujian ini," ujar Sulaiman.

Sulaiman menjelaskan, video klarifikasi itu memang ia buat untuk lingkungan ponpes guna menenangkan situasi dan kondisi.

Ia juga mengakui sudah diperiksa polisi terkait laporan dari pihak korban.

“Sudah, saya sudah di BAP (berita acara pemeriksaan) di kantor polisi. Saya berharap tetap bersabar, biarkan hukum yang berbicara,” jelas Sulaiman saat dihubungi lewat telepon, Rabu (3/11/2021).

Kronologi Pelecehan

Korban diketahui sudah lima kali dilecehkan oleh pelaku.

Hal itu diungkapkan Koordinator P2TP2A Pinrang, Andi Bakhtiar Tombong saat ditemui seusai mendampingi orang tua dan korban saat pemeriksaan di Mapolres Pinrang, Selasa, (2/11/2021).

Seluruh aksi pelecehan dilakukan oleh pelaku kepada korban di lingkungan pesantren.

Saat korban sedang piket bersama teman-temannya di asrama, pelaku datang lalu menciumi korban.

Sampai saat ini pihak kepolisian masih mendalami pengakuan dari korban.

Baca juga: Fakta Viral Polantas Minta Sekarung Bawang sebagai Ganti Tilang, Ogah Diberi Uang Damai Rp100 Ribu

Namun karena korban masih trauma, korban belum dimungkinkan untuk dimintai keterangan lebih detail.

"Sebelumnya kami berkunjung ke rumah korban untuk menggali informasi. Saat ini korban belum bisa berbicara banyak karena masih trauma," jelas Bakhtiar.

"Dia trauma. Agak takut untuk dilihat orang banyak," sambungnya.

Bahkan saat hendak berangkat ke Polres untuk menjalani pemeriksaan, korban butuh waktu lama sebelum mau keluar dari kamar.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Pinrang, AKP Deki Marizaldi mengatakan kasusnya sudah ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan.

Dikatakan laporan tindak pidana pencabulan itu sudah diterima.

Laporan tersebut berdasarkan LP/B/363/X/2021/SPKT/RES.PINRANG/POLDA SULSEL tertanggal 22 Oktober 2021. (TribunWow.com/Anung)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pengakuan Pimpinan Ponpes di Pinrang Usai Dilapor Lecehkan Santrinya, 'Bentuk Kasih Sayang Orangtua' dan Kronologi Oknum Pimpinan Pesantren di Pinrang Lecehkan Santrinya, Berawal Saat Korban Piket

Berita lain terkait