Semasa perang kemerdekaan Untung bergabung dengan Batalyon Sudigdo yang berada di Wonogiri, Solo.
Pada saat itu, Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto memerintahkan agar Batalyon Sudigdo dipindahkan ke Cepogo, di lereng gunung Merbabu.
Kemudian Kusman pergi ke Madiun dan bergabung dengan teman-temannya.
Setelah peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI 1948), Kusman berganti nama menjadi Untung Sutopo dan masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang.
Letkol Untung Sutopo bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan 30 September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akademi Militer.
Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang.
Baca juga: Misteri Keberadaan Soeharto saat Peristiwa G30S Terjadi, Mengapa Tidak Ikut Diculik dan Dibunuh PKI?
Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II.
Dalam peristiwa G30SPKI ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo.
Namun saat G30S gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya.
Ia kemudian ditangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah.
Letkol Untung Sutopo pun, tak seberuntung namanya.
Tepat di tanggal 11 Oktober 1965 dia yang saat itu sedang berusaha melarikan diri ke arah Semarang dengan menumpang kendaraan Bus justru mengalami nasib di luar perhitungannya.
Letkol Untung dikenali oleh dua tentara yang sama-sama menumpang bus.
Karena kaget dan ingin menghindar akhirnya Letkol Untung melompat keluar bus.
Karena kecurigaan kedua tentara yang ada di dalam bus, Untung akhirnya dikejar hingga tertangkap warga di sekitar Asem Tiga Kraton, Tegal.