TRIBUNWOW.COM - Selain orang lanjut usia (lansia) dan orang yang memiliki komorbid, orang dengan obesitas juga dikategorikan ke dalam kelompok yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit parah jika terinfeksi Covid-19.
Kondisi obesitas bisa mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, membuat orang lebih rentan terhadap penyakit akut, rawat inap, dan kematian.
Dilansir dari situs University of Minnesota, peneliti dari Uniformed Services University of the Health Sciences di Bethesda, Maryland, mencoba membandingkan viral load dan tanggapan kekebalan pada pasien obesitas.
Baca juga: Sebaiknya Tidak Isolasi Mandiri, Ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Sakit Parah saat Terpapar Covid-19
Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Ini Berbagai Organ yang Bisa Terdampak oleh Infeksi Covid-19
Di antara pasien rawat jalan, mereka yang sangat gemuk memiliki viral load yang lebih tinggi.
Artinya jumlah partikel virus yang menyerang di dalam tubuh orang dengan obesitas juga lebih banyak.
Studi tersebut juga mengatakan jika obesitas dikaitkan dengan rawat inap dan kebutuhan oksigen tambahan.
Ukuran obesitas di sini adalah indeks massa tubuh (BMI) 25-29,9 kg/m2 dianggap kelebihan berat badan, dan obesitas adalah 30-34,9 kg/m2, dan obesitas berat adalah 35 kg/m2 atau lebih.
Dari semua peserta, mayoritas hanya menjalani isolasi mandiri atau rawat jalan, hanya 25 persen yang dirawat di rumah sakit,
Menariknya, peningkatan viral load ini tidak terlihat pada pasien yang di rawat di rumah sakit.
“Tidak diketahui apakah ini mencerminkan penggunaan obat antivirus pada pasien rawat inap atau pengambilan sampel penyakit rawat inap relatif lebih lambat,” tulis mereka.
Baca juga: Jadi Efek Samping Langka Vaksin, Risiko Pembekuan Darah Lebih Tinggi jika Terinfeksi Covid-19
Rata-rata BMI lebih tinggi pada pasien rawat inap daripada pasien rawat jalan.
Itu juga terlihat pada mereka yang membutuhkan terapi oksigen dibandingkan mereka yang tidak.
"Dalam populasi penerima Tunjangan Kesehatan Militer, obesitas sangat berkorelasi dengan keparahan Covid-19, viral load, dan respons antibodi," tulisnya.
"Ini menunjukkan hubungan antara obesitas dan keparahan Covid-19 dapat dikaitkan oleh peningkatan viral load pada mereka yang memiliki tubuh lebih tinggi. indeks massa," para penulis menyimpulkan.
Risiko keparahan pada pasien obesitas juga disebut bisa karena banyak hal.
Itu mungkin termasuk gangguan fungsi kardiovaskular, pernapasan, metabolisme, dan respons imun yang bisa terjadi pada seseorang dengan obesitas.
Bisa juga karena disregulasi sistem imun yang mengarah pada lebih banyak replikasi virus dan respons imun inflamasi yang lebih besar.
Kesalahan respons imun inflamasi ini dikenal dengan badai sitokin.
Badai sitokin rentan terjadi pada pasien obesitas karena jika obesitas rentan mengalami peradangan kronis tingkat rendah yang disebabkan jaringan lemak tidak sehat.
Peradangan rendah yang konstan ini tidak sama dengan peradangan normal, yang membatasi diri dan merupakan bagian dari respons tubuh terhadap infeksi, sel-sel yang rusak, dan ancaman lainnya.
Peradangan kronis meningkatkan risiko sejumlah kondisi, termasuk penyakit autoimun, kanker tertentu dan penyakit jantung, pankreas, paru-paru, perut, dan sistem reproduksi.
Selain itu, pola makan yang buruk juga dapat berperan dalam meningkatkan peradangan.
Hal itu dijelaskan dalam sebuah studi di tahun 2019 yang dipublikasi di jurnal Nutrients.
Pola makan yang tinggi gula, lemak jahat, dan rendah karbohidrat kompleks, serat, mikronutrien sehat, merupakan faktor risiko metaflammation, atau peradangan metabolik kronis, terutama pada orang yang kelebihan berat badan. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)
Baca Artikel Terkait Covid-19 Lainnya