TRIBUNWOW.COM - Infeksi Covid-19 memang bisa menyebabkan masalah pada paru-paru dan menimbulkan gangguan pernapasan.
Masalah yang perlu diperhatikan adalah happy hypoxia atau silent hypoxia.
Dilansir dari Very Well Health, Happy hypoxia merupakan gambaran dari masalah pernapasan yang terjadi tanpa gejala klinis seperti sesak napas atau bahkan tanpa terasa.
Baca juga: Selain Teknik Proning, Ini 3 Cara Lain untuk Tingkatkan Saturasi Oksigen saat Isoman Covid-19
Baca juga: Tak Ada Oximeter saat Isolasi Mandiri Covid-19, Simak Cara Menghitung Saturasi Oksigen secara Manual
Jadi pasien Covid-19 sering kali merasa bahwa dirinya baik-baik saja.
Fenomena ini memang sudah lama dikenal, tapi kembali populer karena diketahui sejumlah pasien Covid-19 mengalaminya.
Sekitar satu dari lima orang yang harus dirawat di rumah sakit karena Covid-19 dilaporkan adakan mengalami happy hypoxia.
Manny Gonzalez-Brito, DO, seorang dokter anak yang banyak menangani happy hypoxia, mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena alasan khas penyakit pernapasan dan karena virus itu sendiri.
"Cara Virus Corona dan setiap virus pernapasan secara dominan mengubah kadar oksigen darah Anda adalah dengan menyebabkan peradangan di paru-paru," ujarnya.
"Anda tidak dapat dengan mudah memasukkan udara ke kantung udara Anda dan darah yang dialirkan melalui paru-paru Anda tidak mendapatkan udara yang Anda hirup."
"Sekarang kami juga menemukan, dengan Covid-19, bahwa ada mekanisme lain [yang] ini bisa terjadi."
Baca juga: Simak Tips dari Dokter untuk Atasi Sesak dan Mudah Lelah Pasca Isolasi Mandiri Covid-19
Dalam sebuah studi baru-baru ini tentang fenomena tersebut, para peneliti di Boston University di Boston, Massachusetts, menyimpulkan bahwa ada tiga faktor yang berkontribusi.
Studi tersebut dilakukan pada bulan September 2020 dan kini telah diterbitkan di Nature Communications.
Mereka menilai bahwa kemungkinan penyebab hipoksia bahagia adalah campuran dari:
1. Emboli paru
2. Ketidakcocokan ventilasi-perfusi pada paru-paru yang tidak cedera
3. Perfusi normal dari fraksi yang relatif kecil dari paru-paru yang cedera
Tanda awal yang bisa dikenali adalah cara bernapas yang tidak normal, itu bisa menjadi tanda hipoksia.
Jika mengalaminya pasien harus menghubungi dokter perawatan primer Anda atau mendapatkan perawatan darurat sesegera mungkin.
Seperti yang Anda duga, kadar oksigen darah mengukur jumlah oksigen yang ada dalam darah Anda.
Selain itu penting juga untuk selalu memperhatikan saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah saat menjalani isolasi mandiri.
Kadar oksigen darah antara 95% dan 100% adalah normal dan kadar oksigen darah di bawah 92% sudah membutuh perhatian medis atau perawatan di rumah sakit.
Orang yang mengalami happy hypoxia dapat memiliki beberapa gejala.
Meskipun gejala Silent Hypoxia dapat bervariasi dari orang ke orang, gejala yang paling umum meliputi:
1. Kebingungan
2. Berkeringat
3. Napas cepat
4. Detak jantung cepat atau detak jantung lambat
5. Perubahan warna bibir dari natural tone menjadi biru
6. Perubahan warna kulit (dari ungu menjadi merah)
Disadari atau tidak, kata Gonzalez-Brito, mereka kemungkinan akan bernapas lebih dalam dan cepat.
“Tingkat pernapasan, berapa kali Anda bernapas dalam satu menit mungkin akan menjadi hal paling objektif yang dapat Anda pantau,” kata Gonzalez-Brito. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)
Baca Artikel Terkait Isolasi Mandiri Lainnya