Di New York, otoritas kesehatan meminta produsen makanan China untuk membatasi kadar MSG dengan sangat rendah.
Sedangkan produsen makanan lain tidak mendapat instruksi yang sama.
Meski nama sindrom tersebut terkesan menyudutkan satu pihak dan banyak dikritik ahli kesehatan, penelitian yang menggunakan nama tersebut masih tetap berlanjut.
"Saran tersebut akhirnya diabaikan dan sebagian besar penelitian terus berlanjut. Merujuk pada reaksi terkait MSG sebagai sindrom restoran China hingga tahun 1980-an," tulis Ian Mosby, seorang sejarawan makanan di Universitas York, dalam makalah Sejarah Kedokteran Sosial.
Melansir The Guardian, hal tersebut diperparah dengan temuan Dr John Olney di Universitas Washington.
Pada tahun 1969, John Olnet menyuntikkan dan memberi makan tikus yang baru lahir dengan mincin dalam dosis besar hingga empat gram/kg berat badan.
Dia melaporkan bahwa mereka menderita lesi otak dan mengklaim bahwa MSG yang ditemukan hanya dalam satu mangkuk sup kalengan akan melakukan hal yang sama pada otak anak berusia dua tahun.
Maka sejak tahun 1968 industri makanan olahan mengalami sakit kepala sendiri akibat MSG.
Ratusan produk olahan harus ditarik jika penambah rasa berbasis asam amino tidak dapat digunakan, karena mereka akan menjadi, sederhana, hambar.
Pada 1980-an sepertiga dari semua orang Amerika percaya micin secara aktif berbahaya.
Remaja pembeli keripik mengira MSG membuat mereka bodoh dan jerawatan.
Para ibu membaca bahwa MSG dapat melubangi otak anak-anak mereka.
Sebenarnya penelitian lain yang membantah hal tersebut juga sudah banyak dilakukan.
Tetapi setiap kali penelitian dirilis tidak akan menjadi sepopuler penelitian yang mengungkap efek samping MSG.
Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) telah tiga kali, pada tahun 1958, 1991 dan 1998, meninjau bukti, menguji bahan kimia dan menyatakan bahwa micin 'benar-benar diakui sebagai bahan yang aman.'