TRIBUNWOW.COM - Baru-baru ini Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Sumatera Selatan (Sumsel) mengungkap kasus prostitusi online yang melibatkan sejumlah ABG di bawah umur.
Pengungkapan tersebut berawal dari penangkapan mucikari berinisial DNS alias DK yang masih berusia 20 tahun.
DK kemudian diamankan bersama empat perempuan muda di bawah umur yang pekerjakan untuk menjalankan bisnis open BO.
Baca juga: Modus Remaja 17 Tahun Bunuh PSK seusai Kencan di Semarang, Sempat Coba Bunuh Wanita Lain tapi Gagal
Dilansir TribunWow.com, empat ABG yang diamankan adalah remaja putus sekolah yang masih usianya kisaran 14 tahun dan 15 tahun.
Seorang di antaranya mengaku diajak mantan kakak kelasnya untuk menjajakan diri setelah putus sekolah.
"Saya diajak mantan kakak kelas waktu SD dulu. Saya putus sekolah, berhenti waktu SD," kata BN (14) salah seorang remaja yang diamankan, dikutip dari TribunSumsel pada Jumat (6/8/2021).
Berdasarkan pengakuan 4 remaja putri tersebut, mereka menjalankan bisnis prostitusi online sesuai dengan pesanan yang didapatkan dari muncikari.
Seorang ABG lain berinisial RS (14) yang ikut diamankan mengaku sudah tidak ingat berapa kali ia melayani pria hidung belang.
Dari tarif Rp 1 juta yang dipatok muncikari, RS hanya mendapatkan Rp 300 ribu atas pekerjaannya di ranjang.
"Tidak ingat sudah berapa kali. Tapi biasanya dapat lobian dari teman. Saya dapat bagian biasanya Rp 300 ribu, itu sudah bagi dua sama yang kasih orderan," ucapnya RS.
Baca juga: Ditinggal Kabur Suami saat Curi Motor, Istri di Lampung Pasrah Ditangkap: Saya Bingung Mau Ngapain
Baca juga: Kakek 75 Tahun Rudapaksa Bocah 9 Tahun di Demak, Tangan Korban Diikat Rafia, Mulut Ditutup Lakban
Melayani Threesome dan 'Party'
Modus bisnis open BO ini dijalankan dengan cara menawarkan perempuan muda melalui jejaring media sosial MiChat.
Hal itu disampaikan oleh Kasubdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Sumsel, Kompol Masnoni, saat dikonfirmasi.
"Kita mengamankan satu orang mucikari pelaku dari pada tindak pidana perdagangan orang. Modusnya para korban dibooking, dijual setelah di pesan untuk dieksploitasi secara seksual," ujarnya.
Para remaja yang diamankan mengaku terjerumus dalam bisnis esek-esek tersebut karena himpitan ekonomi.