TRIBUNWOW.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total ada 68 orang meninggal dan 70 orang hilang akibat bencana alam banjir bandang serta longsor di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jumlah tersebut merupakan total korban dari 10 kabupaten dan 1 kota yang terdampak bencana alam pada Minggu (4/4/2021).
BNPB juga mengakui kesulitan mengevakuasi korban yang tertimbun lumpur di daerah Kabupaten Flores Timur.
Baca juga: Banjir dan Longsor di NTT, Warga Tewas Tertimbun Longsoran hingga Ratusan Lainnya dalam Pencarian
Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam konferensi pers daring yang disiarkan lewat YouTube BNPB Indonesia, Senin (5/4/2021) sore.
Berdasarkan pemaparannya, total ada empat kendala yang dialami oleh BNPB dalam proses evakuasi di Flores Timur.
1. Pulau Adonara hanya bisa diakses melalui transportasi laut.
2. Adanya hujan, angin, dan gelombang sehingga tidak memungkinkan melakukan pelayaran.
3. Jaringan internet tidak stabil.
4. Proses evakuasi korban yang tertimbun lumpur mengalami kendala terkait alat berat.
Pada konpers tersebut, Raditya mengatakan, alat berat untuk mengevakuasi telah tiba di ujung Desa Nelelamadike.
Ia juga menyampaikan sekira 256 warga Nelelamadike telah dievakuasi ke Balai Desa Nelelamawangi, serta bangunan SD dan rumah-rumah warga lain.
Berikut adalah rincian detail mengenai korban bencana alam di NTT.
68 orang yang meninggal dunia akibat banjir dan longsor ini terdiri dari 44 orang meninggal dunia di Kabupaten Flores Timur, 11 orang di Kabupaten Lembata, 2 orang di Kabupaten Ende, dan 11 orang di Kabupaten Alor.
Kemudian ada 15 orang mengalami luka-luka, 70 orang hilang, dan 2.665 jiwa terdampak.
"Ini akumulasi dari beberapa wilayah yang ada," kata Raditya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (5/4/2021).