Teroris Serang Mabes Polri

Kesamaan dalam Surat Wasiat Pelaku Teror Mabes Polri dan Gereja Makassar, Pakar: Didorong Kecemasan

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kolase foto ZA, pelaku teror di Mabes Polri dan Lukman, pelaku teror di Gereja Katedral Makassar, Jumat (2/4/2021). Pakar meneliti kesamaan dalam surat wasiat ZA dan Lukman.

TRIBUNWOW.COM- Setelah mencermati surat wasiat pelaku teror di Mabes Polri dan Gereja Katedral Makassar, pakar menemukan ada kesamaan mendasar antara keduanya.

Menurut Deborah Dewi, Grafolog Indonesian School of Graphology (ISOG), ada hal yang menonjol dari pola tulisan keduanya.

Meski berbeda bentuk tulisannya, namun ZA dan Lukman ternyata didorong oleh perasaan yang sama dan tidak berlandaskan agama.

Analisa tulisan tangan dalam surat wasiat pelaku teror di Mabes Polri dan Gereja Katedral Makassar, Kamis (1/4/2021). (Capture YouTube KOMPASTV)

Baca juga: Perkataan Terakhir ZA sebelum Serang Mabes Polri dan Tewas Ditembak: Ma, Zakiah Keluar Sebentar

Baca juga: Isi Map Kuning hingga Unggahan Terakhir IG ZA Penyerang Mabes Polri, Sempat Pamitan ke Keluarga

Seperti yang dituturkan dalam kanal YouTube KOMPASTV, Kamis (1/4/2021), Deborah membeberkan hasil analisanya.

Ia menyebutkan bahwa perbuatan kedua pelaku justru tak didasari oleh spiritualitas.

"Setelah saya telaah dan saya bedah lebih lanjut secara spesifik pada karakter pelaku teror, baik ZA maupun Lukman, dua-duanya bahkan dorongan alasan spiritual justru rendah," tutur Deborah.

"Jadi cara kerja grafologi adalah membedah pola yang menonjol dan pengulangan dalam sampel tulisan tangan tersebut."

"Pola tersebut disusun menjadi satu untuk melahirkan sebuah interpretasi analisa perilaku," imbuhnya.

Deborah mengakui bahwa tulisan kedua teroris tersebut berbeda.

Namun, menurut pengamatannya, ada satu benang merah yang bisa ditarik.

"Secara kasat mata, dari surat wasiat yang ditinggalkan dua pelaku eksekutor teror, terlihat bentuk dan jenis tulisan tangannya sangat berbeda," sebut Deborah.

"Di sini saya tidak menelaah isinya, tapi saya menyoroti gaya dan bentuk tulisan tangannya dan indikator grafis apa yang terdapat di dalamnya."

Deborah menyebutkan bahwa kedua pelaku melakukan aksi teror lantaran dipicu kecemasan.

Alih-alih alasan keagamaan, para pelaku tersebut justru lebih tergerak karena perasaan pribadinya sendiri.

"Setelah saya bedah, ternyata ada satu persamaan, benang merah yang meskipun indikator grafisnya berbeda, tapi interpretasinya sama," ungkap Deborah.

Halaman
123