Vaksin Covid

Beredar Isu Vaksin AstraZeneca Sebabkan Penggumpalan Darah, Kemenkes Bantah: Tidak Berhubungan

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Foto tangkapan layar Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tinjau vaksinasi Covid-19 pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (17/2/2021). Terbaru, Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca disebut-sebut menyebabkan penggumpalan darah setelah disuntikkan.

Nadia menyebut BPOM Indonesia sudah memberi izin darurat penggunaan vaksin buatan AstraZeneca.

Namun setelah beredar isu efek samping ini, untuk sementara penggunaan vaksin tersebut ditunda.

Lihat videonya mulai menit ke-2.50:

Vaksin AstraZeneca Lebih Aman untuk Lansia? Ini Kata Satgas Covid-19

Ketua Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander K Ginting menjelaskan vaksin Covid-19 AstraZeneca yang baru saja tiba di Tanah Air.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Primetime News di Metro TV, Selasa (9/3/2021).

"Ini adalah hasil dari pengembangan vaksin AstraZeneca dan University of Oxford," jelas Alexander K Ginting.

Baca juga: Beredar Isu Vaksin Covid-19 Akibatkan Kemandulan, Benarkah? WHO Ungkap Sederet Mitos dan Faktanya

Ia menjelaskan teknologi yang digunakan untuk mengembangkan vaksin ini lebih maju.

"Kelebihannya dia ini lebih banyak dikerjakan dalam bentuk teknologi biologi-molekuler yang lebih advanced. Kemudian bisa diberikan pada usia 18 sampai 55 tahun," kata Alexander.

Ilustrasi vaksin Covid-19. Terbaru, vaksin AstraZeneca telah tiba di Indonesia, Selasa (9/3/2021). (Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S)

Sama seperti vaksin Sinovac yang sebelumnya sudah didistribusikan pemerintah, vaksin AstraZeneca juga harus diberikan dua kali.

Proses pemberiannya juga melalui suntikan intramuskular.

"Kemudian diberikan 0,5 cc per dosis, bila dua dosis berarti 1 cc dalam 24 hari. Injeksinya intramuskular," papar Alexander.

Ia menjelaskan ada sedikit perbedaan dengan vaksin Sinovac dan Sinopharm yang dikembangkan di China.

"Sumber penelitiannya di Inggris. Jadi ini termasuk vaksin yang berbeda dengan Sinovac atau Sinopharm, di mana platformnya adalah inactivated virus," terang Alexander.

Baca juga: BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19 AstraZeneca, Ketahui Potensi Efek Sampingnya

Halaman
123