"Jadi turun hanya 2 persen," kata pengamat politik tersebut.
Burhanuddin menganalisis, Jokowi hanya memberikan efek sebanyak 2 persen dari total orang yang tidak bersedia divaksin.
"Efek Presiden Jokowi ada, tapi efeknya cuma 2 persen menurunkan mereka yang awalnya tidak bersedia menjadi bersedia," katanya.
Ia menilai tindakan Jokowi dengan memberi contoh menerima vaksin tidak terlalu signifikan di mata masyarakat.
Menurut Burhanuddin, angka 41 persen masih terlalu besar.
Apalagi ditambah 4,2 persen orang yang masih belum memberikan jawaban tentang kesediaannya.
"Tetapi yang kurang bersedia atau tidak bersedia ini terlalu besar buat saya," kata Burhanuddin.
"Saya kira yang lain juga punya perasaan yang sama, karena masih ada 4,2 persen yang enggak mau jawab," lanjut dia.
Burhanuddin mengkhawatirkan hal ini akan berdampak pada kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Diketahui vaksinasi menjadi program unggulan demi mengatasi pandemi Covid-19.
"Jadi 41 persen di bulan Februari bukan angka yang kecil. Ini bisa menjadi masalah karena vaksinasi pada dasarnya untuk kepentingan bersama," tambahnya.
Baca juga: 64 Persen Penerima Vaksin Covid-19 di Indonesia Alami Efek dari Rasa Cemas, Muntah hingga Pingsan
Baca juga: Cara Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 untuk Lansia di DKI Jakarta, Ikuti Langkah-langkah Ini
Simak video selengkapnya mulai menit ke-3.33:
(TribunWow.com/Anung/Brigitta)