CVR merupakan bagian yang penting pula dalam penyelidikan, mengingat benda tersebut merekam percakapan pilot di dalam kokpit.
Jika berhasil ditemukan data dari FDR dan CVR dapat dicocokkan sehingga diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat.
"CVR merupakan salah satu bagian penting kotak hitam lainnya, yang digunakan untuk proses investigasi lebih lanjut."
Kisah Tim Penyelam Sriwijaya Air Harus Terapi Dekompresi
Anggota Tim Penyelam Intai Amfibi (Taifib) yang melakukan evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ 182 harus menjalani terapi seusai menyelam.
Dilansir TribunWow.com, hal itu disampaikan Perwira Kesehatan Yontaifib I Marinir Kapten Laut (K) Gandhi Singgih Nugroho dalam Sapa Indonesia di Kompas TV, Senin (18/1/2021).
Diketahui pencarian sisa-sisa kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih dilakukan pada hari kesembilan.
Baca juga: Update Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182: Bayi 11 Bulan yang Viral Kini Jenazahnya Teridentifikasi
Para penyelam fokus menemukan puing-puing pesawat, potongan tubuh korban, serta cockpit voice recorder (CVR) di perairan Kepulauan Seribu.
Menurut Gandhi, anggota tim penyelam harus menjalani terapi dekompresi di ruang hiperbarik seusai menyelam demi menjaga kondisi tubuh tetap prima.
Ia menjelaskan kedalaman laut para penyelam saat melakukan evakuasi adalah perairan dangkal yang mencapai 18-20 meter.
"Walaupun judulnya perairan dangkal, tetap saja ada risiko penyelaman seperti decompression sickness atau kita sebutnya DCS," jelas Gandhi Singgih Nugroho.
"Karena menggunakan tabung nitrogen, tetap ada risiko seperti itu," terangnya.
Ia menyebut ada dua tipe DCS dengan tingkat gejala yang berbeda.
Pada tipe yang lebih tinggi, penyelam yang mengalami DCS dapat kehilangan kesadaran.
"DCS itu dibagi dua. Tipe satu untuk yang lebih ringan. Gejalanya seperti kebas, kesemutan, pusing," papar Gandhi.