Curah hujan yang tinggi dan berimbas pada erosi juga menjadi salah satu faktor penyebab.
Lebih-lebih lokasi jalan tol tak jauh dari sungai besar.
"Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya pergerakan tanah," kata dia.
Baca juga: Susun Rencana Bersama Selingkuhan untuk Bunuh Bayinya Sendiri, Begini Nasib Ibu di Bandar Lampung
3. Rekomendasi PVMBG
Andini menyebutkan, sejumlah langkah bisa dilakukan pengelola Jalan Tol Cipali untuk mengatasi jalan yang retak dan ambles.
Petama, PVMBG merekomendasikan agar pengelola memadatkan tanah di lokasi.
Hal itu dilakukan untuk menghindari retakan yang lebih besar.
"Segera menutup retakan dan dipadatkan agar air tidak meresap ke dalamnya yang dapat mempercepat pergerakan," kata dia.
Kemudian, PVMBG menyarankan supaya pengelola mengendalikan aliran air.
"Mengarahkan aliran air permukaan agar menjauhi area retakan," kata dia.
Penguatan lereng di tepian badan jalan pun dianggap perlu dilakukan untuk mengurangi laju erosi dan meningkatkan kestabilan lereng.
"Perlu penyelidikan geologi teknik sebagai landasan untuk perkuatan lereng (bor pile/sheer pile)," tutur Andiani.
Baca juga: Kronologi Pria di Vietnam Aniaya Istri hingga Tewas, Berawal saat Korban Minta Uang untuk Hari Raya
4. Pengelola Berlakukan Contraflow
PT Lintas Marga Sedaya selaku pengelola Tol Cipali pun memberlakukan contraflow di lokasi untuk mengurangi kemacetan.
"Saat ini diberlakukan contraflow mulai dari Km 117 hingga Km 126 untuk mengurai kepadatan lalin," kata Direktur Operasi Astra Tol Cipati, Agung Prasetyo.