Termasuk di antaranya kritik Pigai yang menyarankan Jokowi tidak perlu maju lagi sebagai calon presiden.
"Jokowi tak usah nyapres lagi. Kalau saya marah, maka wibawa Jokowi habis di Papua," kata Akbar Faizal membacakan kritik yang dimaksud.
Mulanya Pigai menjelaskan kritiknya terkait angka kemiskinan yang tidak banyak turun selama periode pertama pemerintahan Jokowi.
"Begini, tujuh juta penduduk (miskin) menanggung," ungkap Natalius Pigai.
Ia membandingkan hasil kerja Jokowi dengan presiden-presiden terdahulu, seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
"Jadi Jokowi khusus untuk kemiskinan, selama 5 tahun hanya menurunkan 1 digit. Gus Dur dalam 1 tahun (menurunkan angkat kemiskinan) 5 digit, dari 23 juta turun ke 18 juta," papar Pigai.
Mantan presiden lainnya juga sanggup menurunkan angka kemiskinan lebih besar daripada Jokowi, seperti pada periode pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Baca juga: Awalnya Bungkam, Ini Tanggapan Pertama Natalius Pigai ke Abu Janda: Cara Berpikirnya Belum Sampai
"Ibu Mega kurang lebih 2 digit, dari 18 juta ke 16 juta. SBY turun kurang lebih 6 digit selama 2 periode, dari 16 juta ke 10 juta," singgung Pigai.
"Jokowi dari 2014 sampai 2019 (menurunkan angka kemiskinan) dari 10 juta ke 9 juta, hanya 1 digit," ungkap dia.
Maka dari itu, Pigai melontarkan kritik terhadap angka kemiskinan yang tidak kunjung turun.
"Karena itu saya kritik orientasinya kurang. Kemudian 7 juta penduduk yang nganggur itu pada posisi saat itu," terang aktivis HAM ini.
Selanjutnya, Pigai memberi penjelasan atas kritik bagaimana pengaruh Jokowi terhadap masyarakat Papua.
Pigai mengaku kritik itu ia lontarkan saat masa kampanye pemilihan presiden 2014.
"Itu situasi kampanye," ungkap Pigai.
"Sebagai tim sukes?" tanya Akbar Faizal.
Sembari terbahak, Pigai mengakui hal itu.
Ia menjadi tim sukses dari lawan politik Jokowi di pilpres 2014, yakni Prabowo Subianto.
"Sebagai tim sukses Prabowo," jawab Pigai masih terbahak. (TribunWow.com/Brigitta)