TRIBUNWOW.COM - Anggota DPR F-PDIP Ribka Tjiptaning sempat mengungkapkan kecurigaannya bahwa Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tidak akan disuntik vaksin Sinovac.
Dugaan itu disampaikan oleh Ribka dalam rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Rabu (13/1/2021).
Melihat hal tersebut, pakar hukum tata negara Refly Harun menyebut, pernyataan itu timbul dari rasa takut dan ragu.
Baca juga: Sebut Ribka Tjiptaning Memahami Masalah Vaksin Covid-19, Refly Harun: Ada Kekhawatiran
"Ada keraguan dan ketakutan," katanya dalam kanal YouTube Refly Harun, Senin (18/1/2021).
Refly menjelaskan, keraguan tersebut berasal dari rasa ragu atas keampuhan vaksin Sinovac.
Lalu, rasa takut berasal dari ketakutan akan efek samping yang akan dirasakan.
"Makannya Ribka tiba-tiba dengan santainya mengatakan 'Jangan-jangan yang disuntikkan ke Presiden Jokowi bukan vaksin Sinovac'," ujar Refly menceritakan pernyataan Ribka kala itu.
Refly mengatakan, ketakutan dan keraguan bisa dihadapi dengan sosialisasi vaksin Covid-19 yang baik.
"Justru dengan sosialisasi yang baik," ujar dia.
Mantan Komisaris Utama Pelindo I itu lalu mencontohkan bagaimana membuat masyarakat percaya dan mau menerima suntikan vaksin.
Refly mencontohkan jika public figure seperti Raffi Ahmad atau Ariel telah divaksin dan ternyata sehat-sehat saja, otomatis masyarakat akan percaya dan mau ikut divaksin.
Ribka Digeser dari Komisinya
Ribka Tjiptaning kini telah digeser dari posisinya di Komisi IX ke Komisi VII.
Wanita yang merupakan anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) itu digeser seusai menuai kontroversi atas pernyataannya menolak menerima suntikan vaksin Sinovac dalam rangka program vaksinasi Covid-19.
Dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com, perpindahan tersebut tertuang dalam surat yang dikeluarkan oleh PDIP pada Senin (18/1/2021) kemarin.