Kabinet Jokowi

Bukan Blusukan, Risma Klarifikasi Soal Aksi Temui Tunawisma: Manusia Apa Kalau Saya Diam Saja?

Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Bekasi (8 Januari 2020) - Menteri Sosial Tri Rismaharini berkunjung ke Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis (BRSEGP) “Pangudi Luhur” Bekasi untuk menyapa para Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) sekaligus meninjau fasilitas dan program kerja yang terdapat di Balai 'Pangudi Luhur'. Terbaru, Mensos Risma memberikan penjelasan soal aksi blusukan yang ia lakukan.

TRIBUNWOW.COM - Sejak hari pertama berkantor di Jakarta, Menteri Sosial Tri Rismaharini langsung tancap gas pergi blusukan menemui orang-orang pinggiran seperti pemulung dan tunawisma yang ada di Ibu Kota.

Kegiatan Risma itu menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.

Menanggapi hal tersebut, Risma tegas membantah bahwa ia secara khusus menjadwalkan kegiatan blusukan untuk menemui para tunawisma.

Aksi blusukan Menteri Sosial Tri Rismaharini di Jakarta. (Kemensos.go.id)

Baca juga: Nasib Irman Pemulung yang Diangkut Risma saat Blusukan di Jakarta, Kini Dapat Pekerjaan Baru

Dikutip dari Tribunnews.com, Risma mengatakan, apa yang dilakukannya bersifat situasional.

Ia mengatakan, kegiatannya menemui para tunawisma termasuk dalam rangkaian kesehariannya pergi dari rumah ke kantor.

"Saya tuh kerja juga mbak, saya tuh jalan ke kantor itu pagi. Itu kan nggak blusukan. Sebagai contoh ketemu di jalan besar, saya coba tanya mereka, saya tidak blusukan. Saya hanya lewat dari rumah ke kantor," kata Risma di Grand Kemala Lagoon, Bekasi, Jawa Barat pada Jumat (8/1/2021).

Mantan Wali Kota Surabaya itu juga merasa tak paham ketika kegiatannya membantu orang lain justru dipermasalahkan oleh sejumlah pihak.

Risma mengatakan kegiatannya murni atas dasar kemanusiaan bukan karena jabatan Mensos.

"Saya sebagai manusia dan tolong jangan lihat saya sebagai Menteri Sosial. Saya sebagai manusia saya lihat mereka tidur di gerobak, dia tidurnya di gerobak. Saya manusia apa kalau saya diam saja?," ungkapnya

Ia menjelaskan, bahwa kegiatannya menemui orang-orang pinggiran sudah lama dilakukan sejak masih menjadi Wali Kota Surabaya dulu.

"Saya manusia Mbak, saya punya tanggung jawab dan saya punya pendapatan lebih dibandingkan mereka," ucap Risma.

"Saya wajib untuk zakat, saya wajib untuk amal. Enggak usah lihat saya sebagai Menteri Sosial. Tetapi saya juga bekerja dan saya tidak pernah menelantarkan pekerjaan saya," tegasnya.

Risma juga memastikan bahwa ia tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang Mensos.

"Saya di Surabaya itu saya banyak keluar negeri tetapi saya tidak pernah menelantarkan pekerjaan Saya."

"Bahkan sering saya telepon tiba-tiba tengah malam ke Surabaya, tolong ini ditangani ini ini ini."

"Pernah suatu saat saya mau naik pesawat tiba-tiba ada orang yang tidak mau diajak ke rumah sakit oleh Linmas saya. Langsung saya tolong," bebernya.

Risma meminta agar kegiatannya membantu sesama jangan melulu dikaitkan dengan jabatannya.

"Jadi tolong mbak apa kita tidak bisa melihat bahwa kita manusia tanggung jawab kita kepada Tuhan. tolong dilihat itu nggak usah kita lihat jabatannya."

"Setiap manusia berhak tanggung jawab kepada Tuhan."

"Apakah kita semua sudah mati apa kalau kita diam saja? Coba bayangkan di gerobak itu ada anak-anak. Coba kalau itu kena kita rasanya seperti apa. Kita manusia apa? kalau kita melihat seperti itu tetapi kita diam saja," tutupnya.

Baca juga: Soal Aksi Blusukan, Pejabat Kemensos Sebut Risma Sangat Peduli Warga Miskin: Kami Sangat Terpanggil

Bantah Ada Settingan

Sementara itu, menanggapi tudingan sengaja menyediakan pemulung palsu atau settingan, Risma tegas membantah.

Dikutip dari TribunJabar.id, Risma mengaku tidak mengenal siapa sosok yang dituduhkan sebagai pemulung settingan.

"Saya gimana bisa nyetting itu. Saya itu tidak kenal dan saya mau ke Jakarta itu tidak tahu mau kemana dan saya tidak hafal jalannya," kata Risma di Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (8/1/2021).

"Ya gimana saya mau nyetting," sambungnya.

Risma lalu mengungkit kebiasaannya yang selalu lewat jalan berbeda ketika berangkat kerja.

Ia juga menyampaikan bahwa sebelum menjadi Mensos, dirinya sudah lama memerhatikan kehidupan orang-orang yang membutuhkan bantuan.

"Saya tiap hari selalu berpindah-pindah itu sudah saya lakukan sejak PNS dan saya tidak pernah di jalan yang sama itu tidak pernah," ujar Risma.

"Jadi kalau saya berangkat itu hari ini lewat sini. Saya akan mencoba lewat tempat lain. Jadi bukan karena Menteri Sosial pun saya tetap perhatikan orang-orang seperti itu," lanjutnya.

Baca juga: Biasa Dapat Rp 50.000 Per Hari, Pemulung Mengaku Tak Betah Dipindah Risma ke Balai Rehab: Dikurung

Diketahui, narasi pemulung settingan dikembangkan oleh akun Twitter @Andhy_SP211.

"Gembel ternyata bisa menjadi profesi yg menguntungkan,bisa ikut Drakor tanpa casting pastiny.." tulis @Andhy_SP211, Rabu (6/1/2021) pukul 10.22 WIB.

Akun tersebut juga mengunggah dua foto wajah seorang gelandangan berambut dan berkumis putih, bertopi hitam serta mengenakan masker.

Ia lalu menyertakan foto lain yang disebut-sebut sebagai foto penjual poster Soekarno yang diunggah oleh akun Facebook Adhe Idol.

"Kalau yg menghadap ke depan atau yg rambutnya putih/ubanan kek kenal itu, tukang jualan poster Soekarno Menang dia orang PDIP. Lokasi jualanya jln Minang kabau Manggarai, selain itu dia juga jualan kelapa muda. Terciduk juga,” demikian tulis akun Facebook Adhe Idol yang diunggah melalui Twitter @Andhy_SP211.

Di sisi lain, seorang penjual toko yang dituding menjadi pemulung mengaku jadi korban bullying.

Dikutip dari TribunJakarta.com, perundungan itu diterima oleh Doni BK.

Doni BK adalah seorang pemilik toko poster Presiden Soekarno di Setiabudi, Jakarta Selatan.

Ia dituding menjadi seorang pengemis abal-abal saat Risma melakukan aksi blusukan.

Doni bercerita, anaknya menjadi target bullying akibat beredarnya narasi tuduhan di media sosial itu.

“Komen (bully) di media sosial sampai anak nangis. Anak keempat itu di-bully lewat medsos. Kok begitu dibilang, biar laku jualannya. Katanya pencitraan,” kata Doni saat ditemui di tokonya di Jalan Minangkabau, Pasar Manggis, Setiabudi, pada Kamis (7/1/2021) siang.

Deri Setiadi (19) selaku putra Doni mengaku ia kini dibully oleh teman-temannya gara-gara tuduhan jadi pemulung palsu.

“Di komentar-komentar begitu. Mengejek. Kok jualan gitu, aktingnya jago. Di Twitter bilang jago setting. Padahal itu orang enggak tahu kebenarannya,” ujar Deri saat ditemui bersama Doni.

Doni mengatakan, pemulung yang ditemui oleh Risma adalah orang yang berbeda dari dirinya.

“Bahwasanya itu pemulung (gelandangan) itu berstatus jual bingkai itu tidak benar. Pedagang aslinya saya,” ujar Doni saat ditemui, Kamis (7/1/2021) siang.

“Yang (pemulung) ditemui (Risma) itu bukan berstatus seorang pedagang foto Bung Karno. Makanya saya enggak terima itu,” tambah Doni. (TribunWow.com/Anung)

Artikel ini diolah dari Tribunjakarta.com dengan judul Curhat Pemilik Toko Poster Bertemu Risma, Sang Anak Nangis Di-Bully karena Ayahnya Disebut Pemulung, tribunjabar.id dengan judul Mensos Risma Bantah Kenal Kastubi Pemulung yang Viral di Media Sosial, Kabarnya Penjual Poster, dan Tribunnews.com dengan judul Risma Ungkap Tangannya Pernah Patah Karena Masuk Got, Jalani Operasi 5 Jam