Pertama, katanya, karena perkembangan media siber yang pesat di Bumi La Maddukelleng itu.
Kedua, Wajo memiliki tradisi demokrasi yang kuat sejak dari masa Kerajaan Wajo.
Hal ini sambungnya, tercermin dari nama Wajo sendiri.
"Wajo berarti bayang-bayang pohon Bajo. Di bawah pohon itulah pemimpin-pemimpin Bugis berkumpul dan bermusyawarah. Ini menandakan masyarakat Wajo demokratis dan egalitarian," ujar Teguh sambil mengatakan sempat mendiskusikan sejarah Wajo itu dengan Bupati Wajo Amran Mahmud sebelum kegiatan dimulai.
Ketika memasuki Ruang Pola, rombongan tamu kehormatan disambut atraksi Amose dan Tari Padduppa yang menyimbolkan keterbukaan Wajo. (*)