KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo

Pernah Jadi Eksportir, Fahri Hamzah Ungkap Jumlah Kerugian Usaha Benih Lobster: Ya Mati Sudah Mati

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Ananda Putri Octaviani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah yang pernah menjadi eksportir benih lobster mengatakan bahwa usaha itu tidak menguntungkan di acara Mata Najwa pada Rabu (26/11/2020).

TRIBUNWOW.COM - Ekspor Benih Lobster kini tengah ramai dibicarakan setelah Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo ditangkap Komisioner Pemberantasan Korupsi (KPK).

Edhy ditangkap soal dugaan kasus suap ekspor benih lobster sepulangnya dari Amerika Serikat di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (25/11/2020).

Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah yang pernah menjadi eksportir benih lobster mengatakan bahwa usaha itu tidak menguntungkan.

Menteri KKP Edhy Prabowo telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus suap terkait perizinan tambak, usaha , dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020, Rabu (25/11/2020). (YouTube Kompastv)

Baca juga: Di Mata Najwa, Dedi Mulyadi Ngaku Biasa Saja Edhy Prabowo Ditangkap KPK: Tidak Logis Ekspor Benur

Ia mengatakan setelah membeli benih lobster dari nelayan, benih lobster itu harus langsung diekspor.

Jika tidak, keadaan lobster yang sudah mulai berubah akan membuat harga jualnya menurun.

"Belanja kan umurnya itu cuma dua sampai lima hari itu, itu harus segera dikirim."

"Kalau berubah warnanya harganya jatuh, kalau nelayan tidak rugi karena jualnya putut," kata Fahri Hamzah di acara Mata Najwa pada Rabu malam.

Fahri Hamzah yang bertindak sebagai Komisaris mengatakan bahwa pihaknya rugi sampai Rp 200 juta pada operasi pertama.

Menurutnya, kerugian itu cukup berat baginya yang seorang mantan anggota DPR.

"Jadi pengiriman pertama tanggal 16 Juli, rugi saya pantau harga, cek rugi, ya lumayan lah buat pensiunan berat juga."

"Kira-kira yang pertama Rp 200 juta, saya lupa detail harganya pada waktu itu, saya kan bukan Dirutnya, saya hanya komisaris," kata dia.

Baca juga: Detik-detik Penangkapan Edhy Prabowo Diungkap Ali Ngabalin, Bantah Menteri Diciduk di Pintu Pesawat

Lalu pada operasi kedua, lagi-lagi ia mendapat kerugian.

Akibatnya, dirinya memilih untuk berhenti menekuni usaha tersebut.

"Lalu kedua, ya hampir Rp 200 (juta) juga, Rp 180 (juta)-an sudah saya stop."

"Ini pasti ada masalah dengan yang namanya cara tata kelola," ujarnya.

Menurutnya, jika usaha ini dilanjutkan maka yang ada hanya kerugian.

Meski ada beberapa tanggapan yang tidak sama dengannya, Fahri menegaskan dirinya sudah tak sanggup.

"Nah sejak Juli, Agustus, September, Oktober, November sekarang sudah enggak ada operasi karena menurut saya kalau diteruskan tentu kita enggak kuat."

"Dari mana kita menombok, tapi mungkin juga ada yang berpandangan tarung saja sampai terakhir, sampai siapa yang menang-menang sendiri, yang mati kayak saya ya sudah mati saja kira-kira begitu," keluh Fahri.

Lihat menit 4.50:

Dedi Mulyadi Sebut Usaha Benih Lobster Tidak Logis

Edhy ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sepulangnya dari Amerika Serikat di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (25/11/2020).

Menanggapi itu, Anggota DPR Komisi IV fraksi Partai Golkar, Dedi Mulyadi mengaku biasa saja dengan penangkapan Edhy.

Sedangkan sebelumnya, Dedi sering lantang menolak kebijakan Edhy soal ekspor benih lobster.

"Ya biasa saja lah, di Indonesia ini kan segala kemungkinan akan terjadi gitu."

"Jadi kita tidak terlalu kaget dengan persoalan yang terjadi termasuk hari ini, di Indonesia ini kan apapun bisa terjadi," komentar Dedi di acara Mata Najwa pada Rabu malam.

Saat ditanya apakah ada kejanggalan dalam proses kebijakan Edhy, Dedi enggan mengomentarinya.

Pasalnya sejak awal dia sudah tidak setuju dengan ide tersebut.

Sehingga ia tidak mau mengurusi lebih dalam keputusan Edhy tersebut.

"Tetapi saya sejak awal sudah saya sampaikan, tidak logis kita melakukan ekspor benih lobster," katanya.

Ia mengatakan ekspor benih lobster itu tidak logis dan merugikan.

Seperti yang diungkapkan Politisi Partai Gelora, Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah sendiri merupakan eksportir benih lobster.

"Buktinya Bang Fahri rugi, sudah Bang Fahrinya rugi, sudah negaranya rugi."

"Jadi kenapa kita melakukan ekspor yang merugikan banyak orang?" katanya.

Baca juga: Pernyataan Lengkap Edhy Prabowo setelah Ditetapkan sebagai Tersangka Suap: Ini Adalah Kecelakaan

Mantan Bupati Purwakarta ini mengatakan, dirinya yang tidak setuju dengan kebijakan ini sudah tidak mau ikut campur dalam teknis dan prosesnya.

"Saya tidak bicara teknis pengelolaan ekspor benih lobster, kan dari awal saya tidak setuju, kalau dari awal tidak setuju saya tidak akan lagi mempersoalkan siapa pemenangnya, pengelolanya, dan siapa yang diuntungkan," kata dia.

Menurutnya, bagaimanapun cara benih ekspor dilakukan, tetap saja kebijakan ini merugikan rakyat.

"Karena bagi saya apapun yang dilakukan merugikan negara, walau resmi, sesuai prosedur, sesuai standar, tetap saja," kritiknya.

Lantaran tak mau berurusan lebih dalam kebijakan tersebut, Dedi mengaku tak tahu Edhy tiba-tiba ditangkap oleh KPK.

"Kalau mencium terlalu jauh jaraknya, di laut dan saya di darat jadi terlalu jauh untuk mencium," kata Dedi.

Lihat menit 6.08:

(TribunWow.com/Mariah Gipty)