Jumlah itu melampui kasus harian pada Jumat (13/11/2020), 645.410 kasus dan melewati rekor harian sebelumnya tertinggi 614.013 yang tercatat pada 7 November lalu.
Tedros mengatakan bahwa pasokan vaksin pada awalnya akan dibatasi, untuk ditujukan kepada "petugas kesehatan, orang tua dan kelompok rentan berisiko lainnya yang akan diprioritaskan. Itu mudah-mudahan akan mengurangi jumlah kematian dan memungkinkan sistem kesehatan untuk mengatasinya."
Tetapi dia memperingatkan: "Itu masih akan meninggalkan virus dengan banyak ruang untuk bergerak. Pengawasan perlu dilanjutkan, orang masih perlu diuji, diisolasi dan dirawat, kontak masih perlu dilacak... dan individu masih harus dirawat."
Sebelumnya WHO terus memperingatkan seluruh negara agar warganya mematuhi protokol kesehatan.
Apalagi sejauh ini masih belum pastinya ketersediaan vaksin Covid-19.
Sejauh ini, WHO mencatat pengujian vaksin baru mencapai fase ketiga sehingga vaksin Covid-19 versi sempurna belum ada hingga saat ini.
Karenanya, WHO mengimbau agar negara-negara menerapkan aturan ketat untuk menegakkan protokol kesehatan berupa penggunaan masker, menjaga jarak sosial (social distancing), mencuci tangan, memakai masker di ruang publik dan transportasi publik.
WHO pun meminta negara-negara untuk memperbanyak pengujian Covid-19.
“Pesan kami kepada Pemerintah dan masyarakat jelas: “lakukan semua (protokol kesehatan),” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagaimana dilansir Reuters beberapa waktu lalu. (Reuters/AFP/Channel News Asia)
Catatan Redaksi:
Bersama-kita lawan virus corona. Tribunnews.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin) Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak). (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul "WHO: Dunia tidak Boleh Berpuas Diri Setelah Dengar Berita Gembira Terkait Vaksin Covid-19."