"Orang-orang tahu bahwa Wuhan membaik; tidak akan ada yang mengunjungi kota itu jika masih ada Virus Corona," kata Ni.
"Orang China bersedia melakukan perjalanan ke Wuhan, yang dulunya merupakan episentrum Covid-19 dan ini, dari sudut pandang pemerintah, adalah kemenangan," lanjutnya.
Baca juga: Jika Menang Pilpres AS, Joe Biden Janji akan Tangani Covid-19 Sesuai Sains di Hari Pertama Menjabat
Terlepas dari tanda-tanda pemulihan, Akademi Pariwisata China memperkirakan pendapatan pariwisata akan turun 52% pada tahun 2020, dibandingkan dengan 2019. Jumlah perjalanan domestik diperkirakan turun 43%.
Dan Vincent Ni percaya bahwa segala sesuatunya berangsur-angsur kembali normal, tetapi tetap ada pertanyaan apakah pemulihan akan bertahan.
"Seiring musim dingin mendekat, ada keraguan tentang apakah kami akan mengalami gelombang kedua (di China)," katanya.
"Saya pikir ketidakpastian ini ada di benak semua orang China. Tapi untuk saat ini orang menikmati pencabutan batasan-batasan dan kembali ke 'kehidupan normal'."
Pedang Bermata Dua
Ni mengatakan bahwa perasaan normal dirasakan di seluruh negeri dan semakin sedikit orang yang terlihat mengenakan masker di jalan-jalan China.
Bagi lebih dari 20 juta penduduk Beijing, ibu kota negara, misalnya, penutup wajah tidak lagi wajib.
"Ini di satu sisi menunjukkan bahwa situasinya telah membaik secara dramatis, tetapi di sisi lain bisa menjadi pedang bermata dua karena virusnya belum hilang," jelasnya.
"Kami belum punya vaksin yang efektif saat ini, dan jika orang-orang lengah, gelombang kedua bisa menjadi bencana besar."
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), China akan menjadi satu-satunya ekonomi besar dunia yang mencatat pertumbuhan positif tahun ini, dengan ekspansi 1,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) — masih jauh lebih kecil dari rata-rata 6% di enam tahun sebelumnya.
Meskipun industri pariwisatanya tampak telah menemukan titik terang, sektor ekonomi lainnya dan, di atas segalanya, pendapatan populasi yang paling rentan telah mengalami pukulan telak dalam beberapa bulan terakhir.
"Pemerintah pusat berusaha mengembalikan perekonomian ke jalurnya, tetapi kaum muda di kota besar tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan bahkan tidak punya uang untuk membayar sewa lagi, sehingga banyak yang meninggalkan kota," jelas Vivian Hu .
"Banyak orang mungkin bepergian ke seluruh China, tetapi tidak dapat disangkal bahwa bayangan Virus Corona masih ada," kata Wu.
"Orang-orang berusaha mengembalikan kehidupan sehari-hari menjadi normal, tetapi itu butuh waktu dan kebenaran. Hanya saja sulit untuk mendapatkan penjelasan objektif tentang apa yang sebenarnya terjadi." (BBC News Mundo/Norberto Paredes)
Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul "Virus Corona: Sempat jadi pusat pandemi, Wuhan sekarang jadi tujuan turis"